Semester Pertama di Malory Towers

Semester Pertama di Malory Towers

Penulis: Enid Blyton
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 halaman
Judul asli: First Term at Malory Towers
Seri: Malory Towers #1
Genre: Realistic fiction - School fiction
Stew Score: Almost - Delicious!
Target pembaca: 7 tahun ke atas

Sececap Semester Pertama di Malory Towers

Darrell Rivers tak henti-henti memandangi pantulan dirinya dalam balutan seragam sekolahnya yang baru. Sekolah asrama khusus putri bernama Malory Towers.

Darrell belum pernah bersekolah asrama sebelumnya. Jadi tak heran bila dia membayangkan hal-hal yang menyenangkan di benaknya apa saja yang bisa dilakukan di sana nanti.

Meski di hari pertama dia mendapatkan banyak teman, namun hingga menjelang akhir semester dia belum punya sahabat baik. Dia berharap bisa bersahabat dengan Alicia, tapi Alicia sudah punya sahabat baik. Sementara teman-temannya yang lain, tidak enak diajak sahabatan. Gwendoline terlalu manja, Sally terlalu pendiam, Mary-Lou terlalu penakut, pokoknya tidak ada yang seasyik Alicia deh.

Lalu ada kejadian di mana Darrell kehilangan kepercayaan semua orang. Hanya ada dua orang saja yang percaya. Mungkinkah mereka yang akan jadi sahabat Darrell? Siapakah mereka? Bagaimana cara Darrell mengembalikan kepercayaan semua orang padanya? Ataukah dia menyerah dan mengundurkan diri dari Malory Towers?


Cita rasa Semester Pertama di Malory Towers

Membatja buku ini, terutama deskripsi sekolahnya, mengingatkanku pada sekolah si penyihir bercodet sambaran kilat, Hogwarts. Gimana tidak, ada banyak sekali kemiripan yang dimiliki Malory Towers dengan Hogwarts.

Pertama, cara mencapai Malory Towers. Menggunakan dua kendaraan. Yang pertama, kereta khusus yang khusus mengangkut anak-anak Malory Towers. Lalu perjalanan dilanjut dengan bus yang telah menunggu mereka. Hal ini mengingatkanku pada Hogwarts Express dan kereta yang ditarik oleh Thestral.

Kedua, jumlah asrama. Ada empat asrama di MT, sama kayak di HW. Darrell ditempatkan di menara utara, dan seingatku salah satu asrama di HW ada di menara utara juga.

Ketiga, letak Malory Towers yang dekat perairan. Yang ini agak beda dikit sih, kalau Hogwarts di tengah danau (namanya danau hitam, meski tampaknya tidak tampak kayak danau), maka Malory Towers ada di tebing di dekat laut.

Tentu saja aku nggak tahu Tante Jo dapat inspirasi Hogwarts dari mana, tapi bila benar dari sini maka ya... Nggak apa-apa, bukan hal yang perlu diperdebatkan sebenarnya, hahah.

Hanya saja, aku akui suasana di MT ini mengingatkanku akan Hogwarts. Ada ketua murid juga, ada ruang rekreasi juga. Mungkin saja itu standar asrama di Inggris, aku tak tahu.

Awalnya aku tidak berekspektasi apa-apa pada buku ini, tapi tidak aku sangka buku ini bagus banget! Yang bikin bagus bukan gambaran sekolah asramanya, sebenarnya, soalnya deskripsinya tidak "seheboh" Hogwarts. Yang bikin bagus adalah interaksi antar tokohnya yang terjalin rapi dan masuk akal dan kemungkinan 100% terjadi di dunia nyata.

Hanya satu saja kelemahannya, mungkin. Sistem sekolahnya yang agak membingungkan. Ada murid baru, ada murid lama tapi berada di satu semester yang sama. Murid baru di sini juga tampaknya bukan murid pindahan. Atau mungkinkah murid lama itu murid yang tidak naik kelas?

Entahlah. Dengan kisahnya yang apik, jelas aku akan melanjutkan serial ini. Siapa tahu pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika membatja Semester Pertama di Malory Towers ini terjawab di buku selanjutnya.

P.S.
[1] Sejak awal, Gwendoline digambarkan sebagai anak manja. Meski coba "diluruskan" bahwa ejekan yang disampaikan beberapa anak itu baik untuknya, tak ayal aku merasa iba padanya sebab jelas itu pem-"bully"-an. Apalagi sejak awal dia tidak disukai oleh banyak orang.

[2] Aku suka Enid Blyton membuat semua karakternya berada di ranah abu-abu, yakni tidak ada yang benar-benar jahat dan benar-benar baik. Bahkan Darrell sekali pun. Ada momen di mana aku jengkeeeel banget sama sikapnya.

[3] Ada satu hal yang perlu bimbingan orangtua, yakni soal panggilan pada guru. Alangkah baik bila anak diberitahu cara yang baik dalam memanggil guru mereka, yakni dengan cara tidak menggunakan nama panggilan yang melecehkan.

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
|

6 comments:

  1. Gyaaaa cover lama >.< Kamu punya Jun? Minta' buat aku dong :p

    BalasHapus
  2. Bukan, ini aku pinjam :))

    BalasHapus
  3. huaaa.. gua juga lebih suka cover lamaa.. kayanya yang desain cover itu lebih bisa menangkap momen berkesan di buku yang bersangkutan :D

    btw, pas baca ulang malory towers gua juga jadi teringat ma hogwarts.. yaa.. ga heran sih kalau rowling 'terinspirasi' ma ini :D

    BalasHapus
  4. Jadi beneran Tante Jo terinspirasi dari buku ini? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa.. soal itu sih hanya dia dan Tuhan yang tahu, ahahahahaha :p

      Hapus
  5. Mesti mewawancari Tante Jo secara langsung nih :))) *ngipi di malam bolong

    BalasHapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html