Stardust

Stardust

Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman
Judul terjemahan: Serbuk Bintang
Genre: fantasy - fairy tales
Stew Score: Sweet
Target Pembaca: 17 tahun ke atas, atau bagi pembaca yang telah merasa cukup dewasa dalam menanggapi sebuah kisah dewasa yang dibalut sastra.

Icip-icip Stardust

Orang-orang menyebutnya Desa Tembok. Bukan Desa Jendela, bukan Desa Pintu, apalagi Desa Daun Pintu. Sesuai namanya, di Desa Tembok ada tembok yang panjaaaang sekali, saking panjangnya, mungkin bisa ngalahin panjangnya tembok besar China--para ahli belum membuat perhitungannya sih. Ada lubang di tembok itu. Lubang itu dijaga oleh dua orang penduduk Desa Tembok. Penjaga ini menjaga agar tidak ada penduduk yang sembarangan menyeberang ke sisi lain tembok yang merupakan Negeri Peri.


Kisah petualangan yang bikin jantung berdebar-debar ini berawal dari janji seorang pemuda bernama Tristran Thorn pada pujaan hatinya, Victoria Forester. Tristan berjanji akan melakukan apa saja untuk Victoria.

Dan apa yang diminta Victoria? Apakah dia ingin Tristan menjauh? Tentu tidak, mereka bahkan sejak kecil bersahabat. Dengan niat bercanda, Victoria meminta Tristan untuk membawakan bintang jatuh yang mereka saksikan di suatu malam yang belum terlalu larut.

Tristan menyanggupinya.

Hanya saja, yang tidak diperkirakan Tristan adalah bintang itu jatuh di Negeri Peri.

Namun, ketika Tristan menemukan bintang jatuh itu, dia terkejut. Ternyata... bintang yang jatuh itu bukanlah sebongkah batu seperti yang dipelajari di sekolah, melainkan sesosok wanita cantik berambut indah--mungkinkah hasil hair-spa?

Wanita yang bisa dibilang tidak ramah.

Berhasilkah Tristan membawakan bintang jatuh, yang ternyata adalah seorang wanita, pada Victoria? Apakah si bintang jatuh mau dengan sukarela dipertontonkan pada pujaan hati Tristan?

Citarasa Stardust

Jujur, aku mengetahui soal buku Stardust ini justru dari filmnya. Aku tahu buku dan film adalah dua media yang berbeda, tapi kalau boleh menambahkan, aku jauh lebih suka dengan filmnya ketimbang bukunya.

Apalagi ada Claire Danes sebagai Yvaine alias si bintang jatuh.

Kita mulai dari kemasannya. Aku sebenarnya suka dengan bungkusnya, terlihat ancient dan ajaib dan bersinar--ada blink-blinknya. Hanya saja bila aku mau menilainya setjara obyektif, maka gambar peri yang ada di kemasannya bisa dikatakan tidak menggambarkan peri di Negeri Peri.

Peri di Negeri Peri tidak berukuran kecil dan tidak mempunyai sayap. Mereka secara fisik nyaris sama dengan manusia.

Lanjut ke bab 1, bab terpenting dari semua bab. Bab 1 ini sayangnya tidak bagus, untuk standarku. Kalau tidak ingat filmnya yang "wow", dengan bab 1 yang tidak menggelembungkan niatku untuk terus "memakannya", mungkin aku... Tetap membatjanya. Sayang dong ada novel dialpukatin (anggurin udah biasa), hahah.

Manisnya "hidangan" Neil Gaiman yang diberi judul Stardust ini terletak pada diksinya yang w-o-w dan imajinasi sang penulis. Meski ajaib, meski berbasis dongeng, entah bagaimana dia melakukannya, aku percaya kisah di dalamnya ada kemungkinan terjadi di dunia nyata!

Sayangnya rasa manis itu berkurang ketika aku mendapati chemistry kedua tokoh utama Stardust di buku tidak sebaik chemistry di film.

Belum lagi adegan di film yang menjadi adegan favoritku, yakni rentetan adegan di atas kapal terbang penangkap petir, di buku diceritakan sambil lalu. Kaptennya sendiri tidak se-memorable kayak di film (kapten di buku bukanlah seorang Cross dresses!).

Perbedaan yang mencolok antara buku dan filmnya adalah endingnya. Ending di film, tentu saja, happy ending. Tapi ending di buku... Tenang, tidak sad ending kok, tapi tetap menyiratkan kalau hidup di negeri dongeng pun kadang tak ada bedanya dengan di kehidupan nyata, tidak semua hal bisa kita dapatkan.

Perbedaan mencolok lainnya adalah di buku tidak ada karakter yang benar-benar jahat. Semuanya abu-abu. Bahkan si Ratu Penyihir.

Film atau pun buku, keduanya punya pesona tersendiri. Aku suka keduanya, tapi kalau disuruh milih diantara keduanya, aku lebih suka filmnya. Chemistry antara Yvaine dan Tristan itu-loh, bikin hati ini ikut berbedar-debar, hahah.

Yuk mari lihat trailer filmnya:

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| |

5 comments:

  1. Baik buku dan film bagi saya membosankan ._. Buku ku yang ini sudah kuhibahkan :p Nyesal belinya u.u Padahal sampul, judul, dan sinopsisnya keren >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener. novel sama film nya sama sama ngebosenin. ceritanya terlallu flat

      Hapus
  2. masak filmnya membosankan sih? Bagus filmnya loh, apalagi kalimatnya si Yvaine :D

    BalasHapus
  3. Mmm...menurutku bukunya lebih bagus walau film adaptasinya cukup menari, apalgi akting Robert DeNiro haha kock abis. Dibandingkan Stardust, Neverwhere karya Gaiman jauh lebih bagus serta menunjukan karakteristik serta style beliau, coba dibaca deh :D
    Btw, terima kasih sdh ikutan event ini, ditunggu review lainnya di bulan mei ya :D

    BalasHapus
  4. iya, saya ingiiin sekali batja Neverwhere, cuman... di toko online mana pun selalu out of stock .-.

    BalasHapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html