Hana dan Aku

Sebagai seorang Invalid--orang yang menolak prosedur penyembuhan dan tidak menganggap cinta sebagai penyakit paling mematikan dari semua penyakit mematikan, bisa dibilang aku gagal. Aku terlalu penakut. Di mana pun dan kapan pun. Ada mau pun tidak ada Regulator. Aku tidak pernah terbebas dari perasaan cemas.

Bagaimana kalau mereka tiba-tiba datang, di waktu aku belum siap, lalu meminta kartu identitasku dan memeriksanya dengan SVS--Secure Validation System? Mereka akan tahu bahwa aku bukan warga negara yang sah. Tiga guratan luka buatan pamanku di belakang telinga kiriku--tanda bahwa diriku telah menjalani prosedur dan telah disembuhkan--tidak akan bisa menyelamatkanku lagi. Lalu tanpa ragu mereka akan menjebloskanku ke Kriptus--penjara bawah tanah.

Aku tahu aku tidak bisa memilih siapa dan di mana aku dilahirkan. Tapi bukankah dulu ini negeri demokrasi? Lalu kenapa pemerintah bertindak seperti seorang diktator? Kenapa mengungkapkan isi hati sangat dilarang keras dan dianggap menyebarkan ide berbahaya? Kenapa jaring komunikasi disadap dan disensor terus-terusan? Kenapa tertawa terbahak-bahak dianggap tidak sopan dan melanggar peraturan? Apakah hidup bermasyarakat yang sehat itu ketika kita saling curiga pada para tetangga?

Terkadang, aku ingin menjadi bagian dari para zombie--sebutan para Invalid dan simpatisan bagi mereka yang ikut peraturan dan menganggap prosedur anti-cinta adalah sebuah penyelamatan. Meski menyakitkan dan otak kita akan terpangkas separuhnya, setidaknya hidupku akan tenang dan tenteram tanpa dihantui kecemasan.

Itu gambaran singkat tentang diriku dulu. Pengecut, selalu cari aman, berlindung di balik ketiak bibinya. Tapi sekarang tidak lagi. Aku bersyukur telah dilahirkan sebagai Invalid. Kalau aku bukan Invalid, aku pasti dipaksa menjalani prosedur, telah dipasangkan dengan seorang gadis, dan tidak bisa mengenal Hana.

Hana.

Menyebut namanya saja membuat darah di seluruh pembuluh darahku berdesir.

Aku melihatnya untuk pertama kalinya ketika menghadiri sebuah pesta ilegal di peternakan Roaring Brook, Stroudwater. Aku langsung bersyukur Steve, sahabatku, memaksaku ikut pergi dengannya. Kalau tidak, bagaimana diriku bisa melihat gadis berambut pirang itu? Dia adalah sosok tercantik yang pernah aku lihat--seandainya aku mengenal ibuku, beliau meninggal saat melahirkanku, mungkin aku akan bilang Hana tercantik kedua. Meski dia berdiri di tengah orang-orang yang menikmati musik cadas--musik yang jelas dilarang pemerintah--entah kenapa mataku selalu menatap ke arahnya. Seakan-akan ada lampu sorot yang menyinari dan mengikutinya sepanjang waktu.

Kendati dia tampak sangat percaya diri, siap menaklukkan dan menjadi primadona dalam pesta ini, namun bila kalian melihat matanya lebih seksama, selain memancarkan keceriaan--dia tampaknya sangat menikmati musik yang dimainkan band--juga memancarkan ketakutan dan khawatir. Jiwa pemberontaknya mulai muncul ke permukaan. Tapi doktrin mengenai amor deliria nervosa--semacam nama ilmiah untuk penyakit cinta--mungkin masih kuat di dalam dirinya.

Sementara Steve berbaur, aku diam-diam mengikuti Hana. Hana berkenalan dengan beberapa orang. Kebanyakan para cowok, tentu saja. Cowok normal mana yang akan melewatkan kesempatan mengenal gadis cantik? Salah satunya Drew, dia adik kelasku waktu sekolah dulu. Hana juga berkenalan dengan Steve. Dari mata dan bahasa tubuhnya, tampaknya Hana sangat tertarik pada sahabatku itu.

Lalu kenapa aku masih disini dan tidak segera mengajaknya berkenalan?

Steve menawarkan mengambilkan minuman untuk Hana. Sementara Steve mencari meja yang masih dipenuhi gelas minuman--meja di dekat mereka sudah kosong, Hana menghampiri seorang gadis bernama Lena. Aku tahu namanya sebab Hana meneriakkannya.

"Kamu disini." Hana mendaratkan tangannya di bahu Lena. "Benar-benar di sini."

Perbincangan mereka terpotong oleh kedatangan Drew. Dia membawa dua gelas plastik besar di tangannya. Dia mengangsurkan satu gelasnya pada Hana. Hana awalnya agak enggan, tapi kemudian dia menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Dia juga mengenalkan Drew pada Lena.

"Hai, Lena," kata Drew. Selama sesaat suasana jadi canggung. Drew menawarkan gelas plastik di tangannya. Lena menolaknya, tapi Drew salah paham dan berkata akan mencarikan Lena minuman yang lain.

Drew kemudian kembali ke kerumunan. Hana dan Lena kemudian berbincang seru. Dari tempatku berdiri kelihatan mereka saling menahan diri, dan mungkin amarah. Aku kira butuh satu gesekan saja untuk menyulut pertengkaran di antara mereka. Beberapa menit kemudian Lena memutuskan pergi. Hana tercenung dan tampak kecewa.

Aku melihat ke sekitarku. Mencari keberadaan Steve. Tapi dia tidak ada di manapun. Kukumpulkan keberanianku dan bergegas menghampirinya. Masa bodoh bila masalah mendatangiku. Toh aku juga seorang Invalid.

"Apakah minuman itu bakal kamu minum?" Demi Tuhan, dari segala jenis kalimat perkenalan, kenapa hanya itu yang terpikir olehku.

"Kamu boleh memilikinya," kata Hana sambil menyodorkan gelasnya tanpa melihat ke arahku.

"Trims," aku menerima gelasnya. "Bolehkah aku tahu nama malaikat pemberi minuman ini?"

Dia tertawa. Tawa sungguhan. Hal ini sempat membuatku terkesima. Jarang ada "zombie" yang tertawa. Aku tidak salah mengenai dia yang berbeda. Dia kemudian menoleh, menatap ke arahku. "Hana. Namaku Hana," katanya.

"Hana. Nama yang cantik. Secantik pemiliknya."

Hana tersipu. "Ada jutaan Hana di negeri ini."

"Tapi aku yakin tidak secantik dirimu."

Hana tertawa lagi. "Apakah ini pesta pertama yang kamu hadiri, emm--"

"Jun."

"Apakah ini pesta pertama yang kamu hadiri, Jun?"

"Ya."

Kami kemudian mengobrol basa-basi mengenai pesta, band, musik yang dimainkan oleh band-band yang sedang perform, apa aku sudah bekerja atau kuliah atau masih sekolah, sebelum ekor mataku menangkap bayangan Steve yang, akhirnya, menemukan dua gelas minuman.

"Hana, bolehkah aku tahu di mana kamu tinggal?"

"Kenapa?"

"Mungkin aku bisa... Berkunjung ke rumahmu." Aku tahu dalam standar zombie, ini tidak sopan. Maksudku, interaksi cowok-cewek sangat dilarang. Bahkan dalam keluarga ada batasannya. "Sebagai teman," imbuhku, lebih pada takut dia marah atas "ketidaksopananku."

Hana terdiam, jelas berpikir. "Aku punya ide lebih baik. Aku akan ada di taman kota besok siang."

"Aku akan di sana besok siang. Senang mengenalmu, Hana," kataku sambil berjalan mundur. "Dan"--aku mengangkat tinggi gelas minumanku--"terima kasih minumannya."

Dia mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum lebar. Mungkinkah dia menyadari kalau senyumnya itu tertinggal di otak dan hatiku?
***

Hana sudah ada di taman kota ketika aku tiba disana. Dia sedang menatap ke depan, tapi pandangannya tidak fokus. Bahkan sedang melamun pun dia tampak cantik sekali.

Aku berjalan menghampirinya. "Hai," sapaku.

"Hai," balasnya, kedua alisnya menukik ke bawah. "Siapa ya?"

Aku tidak menyalahkannya karena tidak mengenaliku. Malam sebelum bertemu Hana, aku memutar otak bagaimana mengakali hukum--konyol--pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Gagasan itu muncul ketika kakak perempuanku lewat sambil membawa gaun. Aku kemudian meminta bantuannya untuk mendandaniku seperti perempuan.

Apa pun demi ngobrol dengan Hana.

"Ini aku, Jun."

Hana memicingkan matanya. "Jun yang... Meminta minumanku?"

Aku tersenyum. "Ya."

"Kenapa kamu berpakaian dan berdandan sep--secantik ini?" Hana mengubah kalimatnya tepat waktu. Saat itu ada ibu-ibu berwajah ingin tahu yang melewati kami.

"Ngomong dengan orang cantik harus dandan yang cantik juga dong."

Hana terbahak. Tapi buru-buru menutup mulutnya. Taman kota sedang ramai. "Dasar gila!"

Ya, aku gila. Aku menyunggingkan senyuman lagi. Nyaris tergila-gila padamu.

Kami mengobrolkan banyak hal. Dari hal remeh seperti cuaca atau pakaian yang digunakan oleh pengunjung taman kota, ke hal-hal yang mengandung bahaya hingga mesti diucapkan dalam bisikan.

"Kamu keturunan Cina, Jun?"

Kekaguman lagi-lagi membanjiriku. Aneh rasanya kekaguman itu muncul disebabkan oleh sebuah pelanggaran. Tapi mau bagaimana lagi, di dunia yang serba konyol ini ada hukum yang tidak memperbolehkan warganya memikirkan atau membicarakan negara lain.

"Indonesia. Mungkin hanya seperempatnya. Ibuku setengah-Indonesia. Kenapa?"

"Kamu tidak seperti orang Amerika. Apakah jarak Indonesia dekat dengan Cina?"

"Aku tidak tahu. Selain ibuku yang setengah-Indonesia, aku tidak tahu apa-apa lagi soal Indonesia. Memalukan memang. Lebih hapal tentang negara lain ketimbang kampung halaman sendiri."

"Tapi ayahmu orang Amerika, kan?"

"Yeah. Tapi di sini lebih pas disebut penjara ketimbang kampung halaman. Kampung halaman menimbulkan kerinduan, bukan rasa takut yang mencekam."

Pembicaraan kami berlanjut ke hal yang lebih personal. Seperti tempat tinggal dan nama belakang. Nama belakang Hana, Tate. Dan ternyata Hana tinggal di West End. Itu adalah lingkungan orang-orang elite. Tidak heran Hana tampak terawat. Dia juga memberitahuku masalahnya dengan Lena yang ternyata adalah sahabatnya--atau lebih tepatnya, satu-satunya teman sejatinya.

"Menurutku kamu mesti meneleponnya."

"Aku tadi pagi meneleponnya. Yang mengangkat bibinya. Jadi aku terpaksa meninggalkan pesan untuknya."

"Telepon dia lagi."

"Menurutmu aku mesti meneleponnya lagi?"

"Baiknya sih kamu menemuinya langsung. Tapi kalau kamu belum siap, atau sebaliknya Lena yang belum siap, telepon dia lagi."

Hana terdiam sejenak. Jelas berpikir. "Ya. Aku rasa kamu benar. Trims." Dia kemudian terbahak lagi, namun kali ini dia tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangan.

"Ada yang lucu?" tanyaku, heran.

"Kita baru saja kenal."

"Lalu?"

"Tapi aku mempercayakan banyak rahasiaku padamu."

"Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku," aku mengedipkan mataku. Dia terbahak lagi. Rasa hangat memenuhi dadaku. Andai saja hari ini tidak berakhir.

Sebelum kami berpisah, Hana menanyakan pertanyaan yang tidak kuduga-duga. "Jun, apa kamu terjangkit"--dia memelankan suaranya--"deliria?"

Tanda penyembuhan memang tidak menjamin orang yang terjangkit deliria sembuh seratus persen. Bahkan pernah ada kasus seorang wanita yang menjalani prosedur penyembuhan sampai empat kali tapi belum sembuh juga.

Aku bimbang. Aku mungkin jatuh cinta padanya, meski sulit dipercaya dalam waktu sesingkat itu, tapi aku tetap mesti hati-hati. Namun sebuah hubungan yang diharapkan baik harusnya tidak diawali dengan kebohongan, jadi aku berkata, "Bisa dibilang begitu."

Hana menutup mulutnya yang menganga.

"Kamu akan menjauhiku? Kamu akan melaporkanku?"

"Tentu saja tidak. Kamu kan temanku," katanya. Setelah itu dia menghampiri sepedanya dan mengayuhnya pergi.
***

Semakin aku mengenal Hana, semakin aku ingin memilikinya. Hanya saja ada satu masalah: dia sudah jatuh cinta pada orang lain. Dan orang lain itu adalah Steve.

Dari sekian juta cowok di zombieland ini, kenapa dia mesti suka pada Steve?

Dari awal perkenalan mereka, aku tahu Hana tertarik pada Steve. Steve juga kadang cerita padaku ada gadis yang tertarik padanya dan terjangkit deliria. Dia ingin memanfaatkan "penyakit" gadis itu untuk "bersenang-senang" sebelum prosedur menjadikannya warga negara yang baik. Tapi aku tidak menyangka gadis itu Hana.

Sial. Kenapa Hana, kenapa mesti dia? Kenapa mesti cowok seperti Steve yang kamu taksir? Maksudku, aku yang lebih sering memberi,u perhatian. Aku yang lebih sering mengobrol, bertukar rahasia, denganmu, bahkan sampai meminjam semua pakaian dan pernak-pernik kakak perempuanku, demi mengelabui hukum--dan masyarakat munafik--dan bertemu denganmu.

Ini tidak benar. Harusnya aku tidak mengungkit-ngungkit hal yang telah kuberikan.

Aku terlalu marah hingga tidak bisa berpikir jernih. Marah pada Steve. Marah pada Hana, yang memilihnya. Marah pada diri sendiri, yang dulu bersikap pengecut dan menunggu momentum yang tepat.

Tapi semarah-marahnya diriku, aku tidak bisa meninggalkannya. Aku telah bermain api terlalu lama. Aku telah terbiasa dengan luka bakarnya hingga aku tidak merasakan rasa sakitnya--atau mungkin aku tidak peduli.

"Ada pesta di Dataran Tinggi Deering, mau ikut?" tawar Steve, suatu sore. Aku mengatakan aku tidak bisa. Ada banyak tugas kuliah yang mesti kukerjakan--yang tentunya bohong. "Sayang sekali. Padahal aku akan mengenalkanmu pada cewek seksi itu."

"Justru itu aku malas." Malas melihat kalian bermesraan.

"Ini antara kita saja ya," Steve merendahkan suaranya. "Aku berencana mengajaknya 'terbang ke langit' malam ini."

Aku langsung terduduk tegak. "Nggak mungkin. Kamu nggak mungkin ber--"

"Prosedurku tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak mungkin 'bersenang-senang' ketika hasratku tinggal separuh."

Usia Steve dan aku terpaut dua tahun. Maret nanti dia akan genap delapan belas tahun, usia minimal untuk menjalani prosedur.

"Bagaimana dengan gadis itu? Bagaimana kalau dia tahu kamu hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan kesenangan?"

"Dia, dan aku, akan melupakannya segera setelah prosedur."

Dia bahkan mengatakannya ringan saja. Seolah-olah Hana itu barang yang habis dipakai bisa dibuang seenaknya. Seandainya dia bukan sahabatku, mungkin sudah kuhadiahi mukanya yang tampan itu dengan bogem mentah.

"Yakin nggak mau ikut?" bujuk Steve untuk terakhir kalinya. "Ntar nyesel, lho."

Sejak awal aku sudah menyesal tidak memperingatkan, Hana, soal dirimu yang hanya mencari kesenangan.

Hana, layaknya orang yang "terjangkit" deliria, sering sekali bercerita mengenai Steve tiap kami mengobrol, baik di telepon atau tatap muka langsung. Steve yang ini, Steve yang itu, tanpa dia tahu aku mengenal Steve sejak kedatanganku di Portland. Dan tiap kali dia bercerita, retakan di hatiku makin lama makin menyebar. Hanya senyumnya, senyumnya yang manis dan memikat, yang membuat hatiku tak hancur cepat-cepat.

Hana sering mengajakku bertemu dengan Steve tapi aku selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Sebagai salah satu sahabat terbaiknya, dia ingin tahu pendapatku. Kalau pun aku mengiyakan ajakannya, aku bakal mengatakan yang baik-baik tentangnya. Karena pertama, Steve itu sahabat. Kedua, dia memang orang baik, tapi dia punya sifat jahat juga yang membuatnya manusiawi.

Tidak hanya Steve yang mengundangku datang ke pesta, Hana mengirimiku pesan singkat berkode tentang pesta di Dataran Tinggi Deering itu. Aku bilang, aku tidak akan datang. Dia tanya kenapa. Aku memberi jawaban yang sama dengan Steve. Dia sedikit kecewa, tapi dia mesti menghadiri pesta itu sebab dia ingin mendapat kepastian dari Steve, apakah dia jatuh cinta pada Hana seperti Hana jatuh cinta padanya.

Kakakku tiba-tiba membuka pintu kamarku. Wajahnya yang diliputi ketegangan langsung mengendur ketika melihat diriku. "Untung dirimu ada di rumah."

"Memang ada apa?"

"Malam ini ada razia. Cepat matikan lampu kamarmu."

"Malam ini ada razia?" ulangku, sambil menekan saklar lampu di samping tempat tidurku. "Dimana?"

Dia menyebutkan beberapa jalan yang akan dirazia oleh para Regulator. Dataran Tinggi Deering termasuk salah satunya. Aku tidak perlu menanyakan darimana dia tahu. Kami, para Invalid, ada di mana-mana. Termasuk di instansi pemerintah.

"Dataran Tinggi Deering juga? Ta-tapi Regulator sudah lama tidak merazia tempat itu. Kenapa tiba-tiba--" Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, Dataran Tinggi Deering dianggap tempat terkutuk oleh para zombie. Tidak banyak yang mau tinggal di sana. Tempat itu bagai kota hantu. Banyak zombie menghindarinya dan mulai melupakannya. Menurut mereka Dataran Tinggi itu membawa nasib buruk.

"Ada seseorang yang melapor. Kenapa sih?"

"Steve dan Hana. Mereka menghadiri pesta itu. Mereka tidak tahu soal razia itu."
***

Sambil berlari ke Dataran Tinggi Deering--kadang jalan kaki sebentar untuk meredakan napasku yang berantakan, aku mencoba menghubungi ponsel Steve dan Hana. Ponsel Steve aktif, tapi dia tidak mengangkatnya. Kemungkinan bunyi musik mendistraksi bunyi ponselnya. Sementara ponsel Hana...

"Hei--"

"Hei, Hana. Ada--"

"--Maaf, aku tak bisa menjawab teleponnya, atau mungkin aku takkan menyesal tak bisa mengangkat teleponnya--"

Yang menjawabku ternyata pesan suara.

Aku mencoba menghubungi mereka lagi beberapa kali. Tapi tetap sama. Steve tidak mengangkat teleponnya. Aku langsung masuk ke pesan suara ketika menghubungi ponsel Hana.

Kecemasan menggelembung di dalam diriku. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Semoga Regulator belum sampai sana. Semoga ada yang mendengar derap langkah sepatu bot Regulator sehingga ada yang memperingatkan mereka yang lain yang hadir di pesta.

Aku terlambat.

Para Regulator sudah mulai melepaskan anjing-anjing mereka. Jeritan orang-orang, dorongan, lolongan anjing, teriakan Regulator memenuhi udara.

Aku bersembunyi di salah satu halaman rumah kosong yang jaraknya dua rumah dari tempat penggerekan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain meringkuk di balik sesemakan sambil berharap. Berharap semoga anjing-anjing itu tidak mencium aroma ketakutanku. Berharap semoga Steve dan Hana baik-baik saja.

Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam. Aku kehilangan hitungan ketika sampai di menit empat puluh tujuh. Frustasi dan ketidaksabaran perlahan mulai menghampiriku. Tanganku gatal untuk menelepon Steve atau Hana. Tapi aku takut teleponku--kalau mereka sedang bersembunyi--memberitahukan tempat persembunyian mereka pada perazia.

Sampai kapan aku mesti menunggu?!

Akhirnya, aku mendengar mereka pergi. Aku tidak langsung melompat keluar. Antipasi seandainya ada Regulator yang sengaja tertinggal untuk menangkapi mereka yang terlalu cepat keluar dari tempat persembunyian.
Aku menunggu hingga aku mendengar... Hanya hembusan napasku dan detak jantungku.

Setelah mengambil napas panjang beberapa kali, aku berdiri dan bergegas masuk ke rumah yang tadinya ramai oleh manusia.

Bagian kecil dari hatiku, yang memikirkan kemungkinan terburuk, mengatakan sia-sia aku masuk ke rumah itu. Bisa saja Hana dan Steve diciduk dan dibawa oleh perazia--bodohnya aku yang tadi meringkuk saja tanpa mencuri pandang ke arah orang-orang yang dipaksa naik mobil tahanan. Tapi bagian yang lain, yang menyimpan sedikit harapan, entah kenapa merasa yakin aku bisa menemukan salah satu sahabatku.

Jelas tempat itu berantakan. Tapi aku terlalu malas mendeskripsikannya. Pikiranku hanya terfokus pada kedua sahabatku. Seraya menjelajahi tiap sudut rumah, aku berteriak memanggil-manggil nama mereka berdua berkali-kali.

"Jun?" Suara itu terdengar familiar tapi lemah, jadi aku menganggapnya sebagai halusinasiku.

"Jun?" Suara familiar itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras dan jelas menyiratkan ketakutan. "Jun, apa itu kamu?" Tidak salah lagi, itu suara Hana.

"Hana, kamu di mana?"

Dia memanggilku lagi. Aku mengikuti arah suaranya dan, rasa lega membanjiri dadaku, menemukannya di bawah tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai di atasnya--sungguh ajaib perazia tidak menemukannya.

Aku membantunya keluar. Tubuhnya gemetar hebat dan sedikit terguncang. Selain itu dia baik-baik saja.

"Kamu aman sekarang. Mereka sudah pergi," aku menuntunnya ke ruangannya yang aku duga ruang tamu. Aku membetulkan letak sofa yang terjungkir dan mengajak Hana duduk.

Selama beberapa menit, keheningan menyelimuti kami. Aku menunggu hingga dia merasa baikan dan sanggup berbicara. Inginnya aku memeluknya, tapi aku terlalu takut. Hana mungkin berjiwa pemberontak, tapi dari pengamatanku selama ini dia tidak terbiasa dengan sentuhan lawan jenis--hukum pemisahan itu masih lumayan kuat pengaruhnya padanya.

Akhirnya Hana membuka mulutnya, "Tadi... Mengerikan sekali."

"Kamu tidak perlu menjelaskannya. Melihatmu baik-baik saja, sudah cukup bagiku."

Sesaat dia tampak terkejut. Kemudian dia mengatakan hal yang lain. "Steve tidak mencintaiku."

Aku diam saja. Aku tahu itu.

"Aku tadi mendengarmu meneriakkan nama Steve. Apakah itu Steve yang sama?"

Aku tidak mau berbohong lagi. "Ya. Dia sahabatku."

"Kenapa kamu nggak bilang?" Entah hanya perasaanku saja atau aku benar-benar mendengar suaranya menuduhku pengkhianat.

"Kamu suka padanya. Aku tidak mau kamu jadikan musuh gara-gara memberitahumu kejelekannya."

"Alasanmu masuk akal juga," dia tersenyum. "Aku pasti tidak percaya padamu dan mulai mempertanyakan apakah kamu sahabatku. Tapi itu Hana yang dulu. Hana yang sekarang telah belajar dari pengalaman."

"Apakah Hana yang sekarang pikirannya lebih terbuka?"

"Pikiranku memang baru saja terbuka."

"Andai aku Invalid, apa kamu masih mau berteman denganku?"

Sebelah alisnya naik. "Kamu Invalid?" Aku mengangguk. "Benar-benar Invalid?" Aku mengangguk lagi. "Aku rasa... Mengingat kamu baik, ya, aku bisa berteman dengan Invalid."

Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi mungkin saat ini akan jadi satu-satunya kesempatanku berkata jujur padanya. "Kalau Invalid ini jatuh cinta padamu, apa pendapatmu?"

"Kamu apa?"

Aku mengulang kalimatku.

"Kamu terjangkit deliria."

"Kamu tahu Invalid tidak percaya deliria."

"Aku rasa aku hanya bisa menawarkan pertemanan untukmu. Aku tidak mau kecewa lagi, Jun."

"Aku tidak--"

Dia mengacungkan jarinya. "Kamu tidak bisa menjaminnya. Waktu prosuderku makin lama makin dekat--"

Aku tidak mendengarkan ucapannya lagi. Sekarang aku tahu kenapa dia bisa suka dengan Steve.

"Ya, aku rasa pertemanan saja cukup," kataku seceria mungkin. Aku kecewa, tapi aku lega telah mengakui perasaanku.

Aku dulu pernah bertanya pada kakakku, "Kenapa kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, padahal kita sudah berusaha?"

Dan jawabannya, "Mungkin apa yang kamu inginkan mungkin tidak baik untukmu."

Mungkin Hana memang bukan untukku. Mungkin ada seorang lain yang lebih baik bagiku yng akan datang suatu hari nanti dan membuatku jatuh cinta lagi.
***

Dear Hana,

Aku tahu seharusnya aku langsung saja pergi dari kehidupanmu saja, ketimbang menuliskan surat perpisahan ini. Ya, surat perpisahan. Setelah aku berpikir selama beberapa hari, ternyata aku tidak bisa hanya menjadi temanmu. Kamu boleh memanggilku pengecut. Boleh juga panggil aku banci. Boleh juga menghapus namaku dari daftar temanmu. Aku tahu aku telah mengecewakanmu. Aku memang tak layak jadi temanmu. Tapi jangan panggil aku Christopher, sebab itu bukan namaku.

Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu saja. Mungkin saja dengan kepergianku ini akan mudah bagiku. Bagi kita berdua. Kamu tidak perlu pura-pura menganggapku sebagai teman baikmu lagi. Aku juga tidak perlu meyakinkan diriku bahwa kamu masih "hangat" dan "bersemangat" sebelum hari sial itu.

Toh, setelah kamu menjalani prosedur, kamu juga bakal langsung melupakanku. Melupakan obrolan akrab kita. Melupakan obrolan "berani" kita. Melupakan pengakuanku.

Atau mungkin kamu bakal mengingatku tapi hanya sebagai kenalan biasa. Satu dari banyak kenalan yang mana obrolannya hanya sekedar basa-basi doang. Seperti zombie, maksudku seperti kebanyakan orang yang menjalani prosedur.

Jadi sebelum hari kamu lupa padaku tiba, aku memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu saja.

Demi Tuhan, sudah berapa kali aku menuliskan kata memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu saja? Aku sampai ngakak sendiri.

Sejujurnya, aku bingung mau menulis apa hingga aku mengulang-ulang kalimatku. Menuliskan kenangan tentang hal-hal yang kita lalui bersama rasanya terlalu menyakitkan. Mendoakanmu semoga bahagia bersama Fred Hargrove rasanya tidak benar. Bagaimana aku bisa mendoakan kebahagiaan rivalku? Bagaimana mungkin aku mendoakan kebahagiaan orang itu sementara aku harus mengumpulkan serpihan hatiku yang tercecer?

Lebih baik aku segera mengakhiri suratku sebelum aku mempermalukan diriku sendiri.

Selamat tinggal Hana. Harapanku tidak muluk-muluk. Saat hatiku telah bisa berdamai kenyataan, aku berharap kita bisa bertemu lagi dan menjadi teman baik sekali lagi.

Jun.


====
Note:
- World-building dan karakter Hana, Drew, Steve dan Lena oleh Laura Schechter aka Lauren Oliver.
- Based on Delirium and Hana (a Delirium short story) by Lauren Oliver.
- fanfiction ini diikutsertakan dalam event: Surat Cinta Untukmu hosted by Ren's Little Corner.

3 comments:

  1. Eh? Fanficnya bukan berupa Surat cinta jg ya? *salah paham*

    BalasHapus
  2. kalau menurut pemahamanku kalimat "Jika ingin membuatnya dalam bentuk fan fiction" berarti boleh tidak dalam bentuk surat cinta :)

    BalasHapus
  3. Ahhh... aku suka ceritanya. Ada bbrp kutipanmu jg bagus.:') Tetep ya bikin meleleh...hihihi...

    BalasHapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html