The Iron Queen by Julie Kagawa

The Iron Queen

Penulis: Julie Kagawa
Penerbit: Harlequin Teen
Tahun terbit: 2011
Tebal: 283 halaman
Seri: The Iron Fey #3
Genre: Fantasi - Adventure - Romance
Stew score: Yummy!
Target: Young - Adult! (15 tahun ke atas!)

Kalimat pertama bab pertama The Iron Queen
Eleven years ago, on my sixth birthday, my father disappeared.


Sececap The Iron Queen

My name is Meghan Chase, I'm 17 years old, and I'm the half-breed. Or you can call it the half human the half faery.

Karena saling jatuh cinta, Meghan Chase (putri dari King Oberon penguasa Summer Court) dan Prince Ash (putra bungsu dari Queen Mab penguasa Winter Court) mereka diusir dan dilarang kembali ke Nevernever, tempat tinggal para faery. Pada awalnya Meghan merasa bersyukur bisa kembali ke dunia lama, dunia manusia, yang dia kenal. Tak ada lagi rasa was-was, tak perlu berhati-hati dalam berucap—dan terutama berjanji, tak perlu lagi memasang wajah datar tanpa ekspresi, dan yang terpenting tak perlu mendengar ancaman mematikan 3x dalam sehari sudah kayak minum obat saja.

Jadi, dia dan Ash pun menuju satu-satunya tempat yang membuatnya bahagia: rumah keluarganya. Keluarga manusianya. Tempat tinggal ibu kandung, ayah tiri dan (setengah) adik kandungnya.

Tapi ternyata para faery tidak membiarkannya.

Bukan summer atau winter faery, melainkan Iron Faery.

Lho, tapi bukannya the Iron King, Machina...

Ini bukan Machina. Tapi the False King atau si Raja Palsu yang mengklaim takhta Iron King semenjak Machina... Dan dia ingin menangkap Meghan. Meghan si setengah manusia setengah peri. Meghan yang punya kemampuan "sihir" besi.

Setelah bertemu dengan para iron fey, Meghan sadar, bahwa dirinya belum bisa pulang. Dia tidak mungkin melibatkan keluarganya yang manusia biasa. Jadi, dia pun mengurungkan niatnya.

Tapi dengan dia tak jadi pulang ke rumahnya, dan dia dilarang memasuki Nevernever, kemanakah dia dan Ash akan menuju?

Sementara itu, di Nevernever, terjadi peperangan mahadahsyat! Summer dan Winter bergabung menjadi satu aliansi demi menghadapi musuh yang sulit dihadapi: Iron faery! Bagaimana bisa sulit? Tidak seperti Meghan, yang memiliki darah manusia, Summer dan Winter Faery akan merasa kesakitan bila tersentuh besi. Summer dan Winter semakin terdesak apakah ini akhir dari Summer dan Winter Court?

Citarasa The Iron Queen

Sejauh aku membaca seri ini, Iron Queen ini yang jadi favoritku.

Gaya bercerita Julie Kagawa oke banget. Bahasanya mudah dipahami, tidak dipanjang-panjangkan, atau kalau dibikin panjang, panjangnya itu tak terasa menjengkelkan dan hampir semua adegannya terasa cukup penting.

Dalam novel fantasi, terutama fantasi jenis ini, alias bukan fantasi filosofi atau fantasi alegori, world-building atau rancang bangun dunia di dalam sebuah kisah adalah salah satu hal terpenting. Sebab rancang bangun dunia sejak buku pertama (The Iron King) sudah oke, sudah terjelaskan hampir semua hal pentingnya, jadi tak perlu dikomentarin lagi. The Iron Queen nyaris tak memiliki "cacat" dalam hal logika.

Karakter Meghan berkembang lebih baik, dia jadi lebih dewasa, kelabilannya masih ada, tapi masih dalam taraf normal. Karakter Ash mengalami perkembangan yang paling besar, untuk pertama kalinya sejak dua buku prekuelnya, Iron King dan Iron Daughter, di The Iron Queen, Ash tidak lagi "dingin." Yah, setidaknya tidak pada Meghan. Robin, atau Puck, ah, aku masih tidak suka dengan nama panggilannya. Maksudku, namanya sudah bagus, Robin, kenapa terus dapat panggilan Puck?

Robin tetap lucu seperti biasanya. Tetap sarkastis, dan tetap mudah disukai.

Tentu saja karakter favoritku, Grimalkin, masih ada di kisah ini. Dia kucing dan dia tahu banyak hal, dan paling pintar diantara kesemua karakter. Dia masih sama menjengkelkannya, tapi juga bikin gemas sekali.

Apakah ada aksinya? Seperti novel yang digandrungi remaja saat ini? Ya, ada banyak aksi di sini. Tapi tidak sampai taraf berlebihan. Aku malah biasa jatuh bosan kalau disuguhi aksi terus-terusan, kayak semisal adegan di bab 1 aksi, adegan di bab 2 aksi, adegan di bab 3 aksi lagi, tuh tokoh yang terlibat di dalamnya apa nggak capek?

Seru nggak harus banyak aksi kok. Bagiku, cerocosan penjelasan "pengetahuan" ala-ala Robert Langdon (dari The Da Vinci Code) juga bisa seru tanpa melibatkan baku-hantam.

Lalu bagaimana dengan romansanya? Apakah masih dalam batas kesabaran romance haters? Kalau aku bilang sih iya tapi nggak tahu deh kalau mas Anang. Memang masih ada percakapan antara Meghan dan Ash dan Robin yang, bagiku, terasa cheese abis. Tapi di sinilah hebatnya Julie Kagawa, dia tahu moment yang pas sehingga yang keju-keju itu pun terasa pas ada di sana. Tidak bikin bosan atau bikin pembacanya memutar mata atau nyeletuk, "Ya keles..."

Jadi, bercerita soal apa sih The Iron Queen ini? Apakah Iron Realm punya ratu? Atau itu julukan untuk Meghan karena dia bisa "sihir" besi, seperti julukan Iron Daughter yang sebelumnya pernah disandangnya secara tak resmi di buku sebelumnya? Atau ada sesosok baru yang mendeklarasikan diri sebagai Ratu Besi? Dan bila iya, apakah dia pasangan Sang Raja Palsu atau malah musuhnya? Dan siapa sebenarnya si Raja Palsu ini? Kenapa dia bernafsu banget pengen ngedapetin Meghan? Apakah dia sebenarnya menaruh hati pada Meghan?

Ini kok malah ngelempar banyak pertanyaan, ya? :))

Jadi, The Iron Queen itu bercerita... Seperti yang telah aku sebutkan diicip-icip: soal Meghan dan Ash yang diasingkan, kemudian menyusul Robin yang juga diasingkan karena memilih bersama yang diasingkan maka dia kena imbasnya. Tapi karena hanya Meghan yang bisa menyentuh besi, maka dia merupakan harapan satu-satunya menyelamatkan Nevernever dari kehancuran akibat mengembangnya Iron Realm yang tak terkendali.

Hukuman pengasingan itu dicabut tapi dengan syarat, Meghan harus membunuh The False King. Syarat yang sulit memang, tapi karena Meghan punya tujuan yang sama, dia tak menolaknya. Malahan dia mengajukan syarat tambahan sebagai hadiah.

Tentu dua budak orang yang mencintainya ikut serta atau memaksa ikut serta ke Iron Realm. Tapi bukankah mereka berdua tak punya darah manusia? Mereka pasti tidak tahan bersentuhan dan menghirup besi. Memang mereka tak tahan. Tapi ada sesuatu yang bikin akhirnya mereka bisa menemani Meghan.

Secara keseluruhan, The Iron Queen keren banget. AKu masih heran, kenapa buku pertama dari seri ini, yang sama kerennya, belum hendak diangkat ke layar lebar. Apa akunya saja yang ketinggalan berita? Maksudku, buku yang dari kisahnya kacrut saja sudah diangkat ke layar lebar, masa yang oke kayak gini belum?

Bagi yang penasaran kenapa Meghan punya "sihir" besi sejak dari buku sebelumnya, dan di buku sebelumnya tak dijelaskan bagaimana dia mendapatkannya, maka di buku ini akan dijelaskan.

Ending The Iron Queen, bagus, nyaris happy ending.

Bagi penggemar Ash, Ash kebagian satu chapter menjadi narator! Dan tampaknya dia bakal jadi narator deh di buku empat dari serial ini.


Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | read big

2 comments:

  1. waah... serial ini ada berapa buku? kayaknya seru ya :) tadi baca review buku ke 2 di blog andrea :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak kak. Malah ada serial lanjutannya di mana tokoh utamanya jadi adik laki-lakinya si tokoh utama di seri sebelumnya :D

      Dan bukan seru lagi buku ini, tapi seru bengot! >.<

      Hapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html