If I Stay by Gayle Forman

First line of If I Stay
Everyone thinks it was because of the snow.

Sececap If I Stay

Pada suatu pagi yang bersalju, terjadi kecelakaan mobil. Di mobil itu terdapat empat orang. Salah satunya diriku.

Kecelakaan itu membuatku koma. Para dokter sudah berusaha sebaik mungkin menyelamatkanku, sekarang tergantung diriku, apakah aku akan mengikuti keluargaku, yang telah meninggalkan dunia ini, atau aku akan tetap tinggal.

Jika aku tetap tinggal, begitu aku bangun, aku akan merasakan kesedihan teramat sangat oleh kematian keluargaku.

Jika aku tetap tinggal, apa yang tersisa untukku? Bila keluarga adalah segalanya, dan sekarang aku kehilangan mereka, bukankah itu sama saja aku tidak memiliki apapun di dunia ini?

Tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di dunia ini.


Citarasa If I Stay

Sebagai perkenalan dengan karya Gayle Forman, buku ini bisa dibilang cukup berhasil. Gaya berceritanya enak untuk dikunyah (?) dan gaya menulisnya cukup unik (selalu diawali dengan adegan masa kini - adegan setelah kecelakaan, lalu kemudian disambung adegan masa lampau yang terjadi pada Mia).

Tapi setjara emosi, I can't truly relate with Mia. Padahal, Mia and I punya kesamaan: kami sama-sama merasa bak orang asing dengan keluarga kami sendiri. Seolah-olah kami bukan bagian dari mereka, karena kami berbeda. Mia menjadi satu-satunya pemain cello, musisi lagu klasik, di keluarganya. Aku menjadi satu-satunya yang cinta buku setengah mati di keluargaku. Alasan aku tidak bisa terkoneksi dengannya mungkin karakternya di buku tidak semanis di film.

Oops, keceplosan deh :)) #halah

Dan alasan matjam apa itu?! #ditimpukvoucherbuku

Alasan sebenarnya bukan itu. Sebenarnya, aku tidak begitu penasaran dengan If I Stay. Juga adaptasi filmnya. Aku jauh lebih penasaran dengan buku keduanya, Where She Went, yang menggunakan sudut pandang Adam, pacar Mia, dan menurut beberapa review, dia sedang patah hati berat.

Singkatnya, aku sedang mentjari temen gitu, hahah.

Dirimu sedang patah hati, Jun? :O

Focus to the review, please. Ntar aku kasih Aqua air minum kemasan lho -_-

Oke, balik ke review.

Tapi karena aku lebih suka membatja cerita berseri setjara berurutan, maka dari itu aku membatja buku ini dulu. Meski aku dijodohkan lebih dulu untuk menonton adaptasi filmnya, yang keren tapi kurang istimewa. Yang sedikit membosankan tapi jauh lebih kusukai dibanding bukunya. Heheh.

Alasan kedua, karena aku ingin memasukkan buku dengan tema/subtema musik untuk dapat dimasukkan dalam tantangan membatja New Author RC 2015. If I Stay merupakan buku dengan tema/subtema musik ketiga yang kubatja setelah Naomi and Ely's No Kiss List dan Nick and Norah's Infinite Playlist, yang dua-duanya merupakan karya Rachel Cohn dan David Levithan. Dan bila dibanding dua buku tersebut, meski kedua tokoh utama kita di If I Stay seorang musisi, referensi musiknya tidak sebanyak dua karya kolaborasi Cohn dan Levithan.

Karena banyak review yang mengatakan If I Stay bikin mewek dan mengharu biru, jujur, aku sempat berharap buku ini bikin aku menangis juga. Dan sebenarnya ... Kehilangan Mia itu punya kans untuk itu. Tapi aku tidak tahu, entah karena moodku saat membatja If I stay sedang bagus sekali sehingga tak mempan disuguhi elegi, yang jelas aku tidak menangis. Bahkan berkatja-katja pun tidak. Aku bisa membayangkan kehilangan seperti Mia. Atau singkatnya, aku bisa merasakan kesedihannya juga kebahagiaannya di masa yang dahulu (sebelum dia harus memilih untuk tinggal atau tidak), tapi aku hanya baru menyentuh permukaannya. Tidak sampai bisa menyentuh lebih dalam lagi. Mungkinkah Mia kurang begitu oke dalam menuturkan kisahnya?

Atau mungkin bukan Mia, tapi masalahnya ada di aku?

Secara keseluruhan, aku nyaris suka dengan If I Stay. Gaya bercerita dan cara bertutur penulisnya oke, karakter dan konfliknya sangat membumi. Lewat If I Stay ini aku jadi tahu soal Juilliard, sekolah bergengsi bagi musisi. Jadi ketika ada novel atau film lain menyebut soal universitas tersebut, aku bakal mengenalinya dan tak lagi menduga apakah itu universitas fiktif atau tidak. Dan masih lewat If I Stay, aku jadi tahu sedikit tentang cello, alat musik besar yang mirip gitar raksasa yang dimainkan seperti biola.

Sebelum aku mulai membatja If I Stay, aku sempat bertanya-tanya, Apa kira-kira maksud judulnya, kenapa dia berandai-andai untuk tinggal, memang dia mau pergi kemana? Aku mengerti bila dia ingin pergi dan melupakan ketjelakaan yang dialaminya, dan mentjoba membuka lembaran kehidupan yang baru, tapi ternyata aku salah menduga. Pilihan ini menyangkut antara hidup dan mati Mia. Sesuatu yang harusnya mengaduk-aduk emosiku.

Tapi jangankan mengaduk-aduk, atau memixer, atau memblender (?), If I Stay ini terasa datar-datar saja bagiku.

Lalu, apakah ketidakpuasan yang aku rasakan dari If I Stay berpengaruh pada keputusanku untuk tetap melanjutkan membatja Where She Went atau tidak? Untungnya tidak. Aku tetap penasaran dengan buku bergambar gitar dengan latar belakang pintu tersebut. Covernya sangat koleksi-able banget, hahah.

If I Stay

Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Dutton Books
Tahun terbit: 2009
Tebal: 201 halaman
Seri: If I Stay #1
Genre: Family Fiction - Interpersonal Fiction - Supernatural - Romance - Music Fiction
Stew score: Almost - Sweet (2,5 of 5 stars)
Target: Young - Adult (15 tahun ke atas)

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::

Kategori: 101 Genre - Music


0 comments:

Poskan Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html