Dare to Say [3]

Masih ingat dengan Dare to Say edisi bulan lalu di Story Eater Tales? Yang membicarakan soal The Fault in Our Stars itu lho. Kalau kalian lupa, kalian bisa baca ulasanku di sini.

Nah, bagi yang ingat, atau yang barusan baca, pasti tahu bahwa di post tersebut aku menyebutkan judul buku lain. Buku yang oleh sebagian orang dijadikan pembanding novel karya Mr. Green tersebut. Buku yang berjudul: The Book Thief.

The Book Thief

Rate awal: Delicious
Untuk lebih jelasnya soal rating, bisa ditengok di sini

Jujur saja, saat aku tahu soal "kata sebagian orang" itu aku sontak terkejut. Pasalnya... ah, lebih baik aku fokus pada buku tanpa membandingkan dengan buku lain.

Jujur (lagi), awalnya aku agak kesulitan membaca The Book Thief. Gaya bercerita Markus Zusak lain daripada yang lain. Memiliki 10 part ditambah prolog dan epilog. Dan tiap bab ada yang singkat sekali (kadang hanya terdiri satu kalimat saja), ada yang panjangnya sepanjang tembok raksasa China #eaak

Aku sempat skeptis bakal bisa menyelesaikan buku ini. Lalu kemudian, aku membaca review bikinan kak Annisa Anggiana di goodreads sekali lagi. Itu salah satu dari sekian banyak review yang buatku penasaran dan membaca buku ini, ingin membuktikan kata-kata mereka yang sudah baca yang semuanya... aku ulang, semuanya bilang buku ini keren, bagus dan tidak akan menyia-nyiakan waktumu! Ajaibnya, setelah baca review kak Annisa itu, akhirnya aku jadi paham apa yang "diocehkan" oleh si narator The Book Thief, yang merupakan malaikat pencabut nyawa.

Iya, naratornya, malaikat pencabut nyawa. Yang memperkenalkan diri dengan sebutan Death.

Karena aku belum terlampau jauh, maka aku baca lagi dari halaman pertama dan... Tak disangka, sang Death ini... punya selera humor yang oke punya! XD

Selain dua hal itu, gaya bercerita yang unik dan naratornya yang lucuknya minta ampun, sang Death ini suka banget memberi sopiler pada pembaca. Ya, dia mengatakan dengan amat sangat gamblang bahwa tokoh ini, tokoh itu, tokoh ini-itu, bakal mati.

Tentunya sepanjang kita membaca sebuah buku, pasti kita punya tokoh favorit. Dan kok ya kebetulan sekali tokoh yang dispoiler nasibnya oleh Death itu tokoh favoritku! Jadinya selain cemas akan nasib orang-orang Yahudi yang ditangkapi atau orang Jerman asli yang punya teman orang Yahudi atau rasa kemanusiaan yang tinggi yang ingin membantu mereka, aku jadi merasa cemas dengan tokoh favoritku itu.

Dalam hati aku bergumam, semoga tidak jadi. Semoga itu hanya "gertakan" saja agar aku terus membaca buku ini.

Tapi...

Ternyata itu bukanlah gertak saus—karena sambal sudah terlalu mainstream xP

Tokoh yang kata Death bakal mati, mati beneran!

Yang mengejutkan adalah... Aku tetap menangisi kematian tokoh itu. Padahal, biasanya kalau aku tahu, entah dikasih tahu atau baca dari review orang, atau setidaknya menebak bagaimana nasib sang tokoh dari jalan ceritanya, jangankan nangis, mata berkaca-kaca saja jarang terjadi. Hal ini pernah terjadi saat aku membaca salah satu novel favoritku, The Knife of Never Letting Go. Karena aku secara tak sengaja baca sopiler, jadinya aku tak sampai menangis, mataku hanya berkaca-kaca saja. Tapi The Book Thief beda. Bahkan mataku, err, berkaca-kaca, err, tidak hanya sekali.

The Book Thief tidak hanya berisi teks tapi juga gambar. Gambar ini bagian dari cerita, bukan pelengkap atau ilustrasi dari cerita. Sayang, gambar terbaik di buku ini di adaptasi filmnya tidak disertakan. Tapi tak apa, mungkin memang bagian itu agak susah divisualisasikan ke film.

Yang bikin aku heran adalah buku ini sudah sejak lama terbit, tapi kok ya belum ada penerbit yang menerjemahkannya? Apa karena tidak ada romansanya lantas tidak laku dijual di Indonesia?

Aku tidak bisa menyalahkan itu juga sih. Secara hidupnya sebuah penerbit tentunya dari buku yang laris dijual. Sayangnya, tampaknya The Book Thief bukan buku yang laris dijual di Indonesia.

Tapi aku tak mau putus harapan.

Aku akan terus berharap dan berdoa semoga segera ada penerbit yang menerjemahkan The Book Thief. Sehingga mereka yang belum bisa bahasa Inggris bisa ikut menikmatinya =D

Rate akhir: Super Duper Ultra Great Delicious
Untuk lebih jelasnya soal rating, bisa ditengok di sini

Baca review The Book Thief di sini.



Jadi apa sih Dare to Say? Lewat Dare to Say ini kak Zellie, mengajak orang untuk berbuat baik, yakni mengatakan kejujuran. Karena konteksnya dunia baca, maka kejujuran itu mengenai buku yang telah kalian baca. Kejujuran itu bisa berbentuk rasa suka kalian (yang tulus) pada buku tersebut—terlepas buku itu terkenal atau dibenci banyak orang, atau... Ini nih yang menantang, mengatakan dengan jujur apa yang membuat kalian tidak menyukai sebuah buku atau hanya bisa memberinya nilai 1 dari 5 bintang (padahal buku tersebut buku terkenal, ditulis penulis kenamaan, mendapat banyak nilai yang bagus, dan hendak/sudah diadaptasi ke layar lebar).

Pengen membagikan kejujuran pada dunia? Berikut caranya::

1. Follow Me:Book admirer atau tambahkan di blogroll kamu. Bisa juga follow lewat email :)

2. Buat posting tentang buku yang kamu baca dan ternyata tidak sesuai dugaan, harapan, rating GR, rekomendasi teman, baik lebih bagus atau lebih jelek. Kasih tau apa yang awalnya kamu harapkan (rating awal) dan apa yang kamu dapatkan (rating akhir). Underrated or overrated? :)

3. Oh ya, boleh juga kok kalau kamu mau share pengalaman kamu tentang komen yang muncul soal buku yang udah kamu baca/review. Banyak yang menganggap kamu menilai suatu buku terlalu rendah/tinggi? Silahkan sampaikan pembelaanmu dengan baik :D

4. Masukkan link postingan kamu ke Mr.Linky yang sudah disediakan di akhir post. Kalau mau, boleh tambahkan button ‘Dare to Say’ juga di postinganmu :D

5. Posting dari Book-admirer setiap tanggal 23. Tapi, kamu bisa posting kapan saja asal menuliskan bulan saat setor link. Contoh untuk setor posting di bulan Februari: Zelie | Me:Book-admirer | Feb

Source: copas langsung dari blog-nya Kak Zelie :))

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html