[Movie Review] The Hunger Games: Catching Fire

Kemenangan Katniss dan Peeta tidak serta merta membawa kebahagiaan dan rasa lega pada mereka. Tindakan mereka dengan buah-buah berry kecil yang didasari spontanitas justru dianggap sebagai tindakan pemberontakan. Oleh Presiden Snow mau pun oleh sebagian penduduk di distrik-distrik.
Tapi kalau begitu, kenapa mereka berdua masih hidup?

Membunuh mereka hanya akan memperkeruh suasana. Bagai menyiram bensin pada api. Presiden Snow tahu itu. Tidak ada yang akan percaya kematian mereka adalah kecelakaan. Belum lagi penduduk Capitol menyukai mereka berdua.

Karena Katniss yang mempengaruhi Peeta, dan alasan melakukan tindakan "bunuh diri bersama" baginya bukan karena dia mencintai Peeta, otomatis dialah yang melakukan kesalahan (bagi Presiden) atau tindakan perlawanan (bagi pemberontak), dan berkat itu secara khusus dia mendapat "kunjungan kehormatan" dari sang Presiden demi memperoleh ancaman terbuka dari beliau.


Sang Presiden menginginkan hal sederhana saja. Beliau ingin, Katniss memadamkan api pemberontakan di distrik-distrik lain melalui acara tur kemenangan dengan meyakinkan para pemberontak bahwa aksinya memang didasari oleh cinta, dan bukan karena keinginan untuk memberontak. Itu artinya Katniss mesti berakting lebih baik lagi.

Namun, kunjungan Katniss dan Peeta ke distrik 11 malah menambah kekacauan. Ada orang terbunuh hanya gara-gara mereka keluar dari apa yang telah dijadwalkan untuk mereka!

Katniss dan Peeta, setelah peristiwa berdarah di distrik 11 dia tahu soal ancaman Presiden, berusaha sebaik mungkin memadamkan api pemberontakan yang mulai berkobar. Namun, usaha mereka berdua belum cukup. Api yang mulanya berupa percikan semakin membesar. Di beberapa distrik bahkan sudah terjadi aksi perlawanan. Sangat kontras dengan distrik 12 yang damai sentosa.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Kegagalan Katniss dan Peeta untuk meredam api pemberontakan berbuntut panjang.

Pertama, muncul Pemimpin Penjaga Perdamaian baru bernama Thread, menggantikan P3 yang lama yang meski tidak disukai banyak orang tapi dia masih memiliki hati. Berbeda dengan Thread. Dia melaksanakan tugas dari pemerintah pusat dengan amat sangat tegas. Mencoba melawannya... Pecut! Membela warga yang tak berdaya, pecut! Thread ini mungkin masih saudaraan dengan Cat Woman kali ya #eh

Yang kedua... Sebelum aku menyebutkannya, ada hal yang perlu kalian ketahui terlebih dahulu.

Perlu diketahui, tiap 25 tahun sekali diadakan Quartell Quell. Quartell Quell itu ya The Hunger Games. Bedanya adalah biasanya ada tambahan peraturan "istimewa." Semisal di Quartell Quell ke-2. Jumlah peserta The Hunger Games yang biasa adalah 24. Maka di QQ ke-2 jumlah peserta jadi berlipat ganda menjadi 48 anak.

Sekarang adalah The Hunger Games ke-75 dan merupakan Quartell Quell yang ke-3. Dan peraturan istimewanya adalah... Para peserta jumlahnya tetap 24, hanya saja para peserta diambil dari para pemenang THG yang masih hidup!

Itu artinya...

Ya, yang kedua, Katnis dan Peeta kembali ke arena. Jadi, alih-alih mereka menjadi mentor dan melihat peserta dari distrik mereka bertarung hingga titik darah penghabisan, mereka kembali menjadi peserta The Hunger Games!

Tentu saja The Hunger Games kali ini berbeda. Kali ini tidak ada peserta yang canggung lagi. Semuanya telah terlatih dan, dengan menjadi pemenang otomatis mereka, pernah membunuh seseorang—bahkan mungkin lebih. Dan dipastikan, hanya akan ada satu pemenang saja!

Bagaimana Katniss dan Peeta menghadapinya? Mungkinkah kemenangan mereka akan terulang kembali? Ataukah mereka akan menjadi korban dari acara reality show berdarah itu?

Pada akhirnya, bisa juga aku menonton adaptasi film dari novel favoritku ini. Secara kisah, bisa dibilang adaptasi filmnya tidak menghilangkan banyak bagian dari buku. Part terbaiknya ada. Part yang bikin terkejut dan deg-degan ada. Cuman endingnya doang yang aku rasa kurang nendang. Apa karena aku sudah terkejut duluan saat membaca bukunya? Mungkin saja. Ah, tapi nggak ah. Aku merasa kata-kata yang diucapkan di ending oleh salah satu tokoh itu terasa... Kurang ada feelnya. Padahal kalimat pamungkas itu, ketika aku baca novelnya, bikin aku terperanjat dan gemas setengah wafat pengen sekuelnya segera diterjemahkan.

Iya, dulu aku baca Catching Fire pas dalam posisi Mockingjay belum diterjemahkan. Jadinya ya... Nekad baca bahasa Inggrisnya. Tapi kemudian, Alhamdulillah, dapat buku Mockingjay versi terjemahan secara gratis setelah memenangkan kuis yang diadakan oleh @IndoHungerGames :'D (yang kemudian review Mockingjay-ku terpilih sebagai Resensi Terbaik yang mana kemudian memberiku jalan mulus untuk membaca karya Kristin Cashore: Graceling *baca tahmid lagi* :'D )

Oke, cukup OOT-nya :))

Mau komentar apalagi ya? Pokoknya The Hunger Games: Catching Fire wajib nonton deh. Animasinya, set lokasinya, amat sangat jauh lebih oke dari film prekuelnya!

Dan bajunya Katniss... Bukannya aku pecinta fashion atau apa, tapi efek bajunya benar-benar spektakuler. Benar-benar membakar!

Yang bikin aku cukup terkejut adalah pemeran kepala juri pertarungan yang baru. Dalam bayanganku Plutarch akan diperankan oleh aktor kurus yang memiliki bahasa tubuh yang agak canggung. Pemerannya tidak buruk. Aku suka kok aktingnya. Keterkejutanku ini persis seperti keterkejutanku saat nonton Inception saat mengetahui para aktornya, kecuali Leo dan Joseph.

Beberapa aktor/aktris saking seringnya memerankan sebuah peran, semisal peran antagonis, kadang tercipta mindset bahwa dia cocok memerankan peran itu, sehingga rada kagok saat memerankan peran antonimnya. Seperti itulah saat aku mengetahui aktor pemeran Plutarch.

Yang aku suka dari adaptasinya adalah adanya sorotan di pihak Presiden Snow. Jadinya kita tidak benar-benar "blank" soal aksi dan reaksi di pihak musuh.

Jadi, secara keseluruhan, adaptasi buku kedua The Hunger Games: Catching Fire, yang sudah baca novelnya tidak akan kecewa (kalau pun kecewa paling cuman dikit), dan yang belum baca novelnya pasti sangat menyukainya dan akan berburu novelnya untuk mencaritahu kisah komplitnya =p




2 comments:

  1. Aku setuju nih. Pas nonton The Hunger Games aku kecewa berat karena merasa film itu memotong inti cerita di novel pda bagian yang nggak tepat. Jadinya bosenin dan orang yang belum baca bukunya psti bingung.

    Tapi adaptasi Catching Fire ini jauh lebih bagus. Semoga Mockingjay nanti sebagus ini. Kalo bisa lebih bagus lagi sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. namanya juga adaptasi, tapi kalau dipecah jadi dua juga nggak bakal seru sih buku ini, hahah.

      Semoga bagus. Apalagi dipecah dua gitu. Kira-kira ending Mockingjay part pertama ada di bab yang mana ya? :)))

      Hapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html