Abarat: Days of Magic, Nights of War

Abarat: Days of Magic, Nights of War

Penulis: Clive Barker
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 508 halaman
Judul terjemahan: Abarat: Siang-siang Magis, Malam-malam Peperangan
Seri: Abarat #2
Genre: [High- Dark-] Fantasi - Adventure - Misteri - Supernatural - Suspense - Horror
Stew score: Delicious!
Target: Teen (13 tahun ke atas!)

Sececap Abarat: Days of Magic, Nights of War

Petualangan Candy di Abarat masih belum berakhir. Malah semakin menegangkan dengan makin bernafsunya Pangeran Kegelapan, Carrion, untuk menangkapnya, juga munculnya Matter Motley, nenek Carrion, yang menginginkan kematiannya.

Di tempat lain, John Mischief beserta saudaranya dan teman-teman barunya, masih berusaha menemukan seseorang yang sedang menunaikan janji membunuhnya.

Sementara itu di Chickentown, kota tempat asal Candy, dua hantu beroperasi memperingatkan para warga akan bahasa besar yang akan datang.


Lalu, bagaimana dengan Candy? Masihkah dia bersama Malingo, sahabat barunya? Ataukah mereka telah berpisah dan mencari takdir masing-masing? Atau dengan alasan lain? Sebab, akhir-akhir ini berdekatan dengan Candy, gadis dari Hereafter (sebutan orang-orang Abarat untuk dunia nyata), bukanlah pilihan. Apalagi di tempat-tempat yang habis dikunjunginya selalu akan timbul bencana dan petaka.

Bila memang begitu, kenapa Candy tidak pulang saja ke Chickentown ya? Maksudku, pulang bertemu keluarganya. Terutama ibunya yang cantik dan baik hati, Melisa. Apa mungkin karena Abarat, yang terdiri dari 25 pulau, di mana tiap pulaunya memiliki jam-jamnya masing-masing, di mana siang dan malam abadi di masing-masing pulau—tergantung pulau jam berapa mereka, begitu menariknya hingga Candy enggan untuk pulang ke kampung halamannya, dan menutup mata akan fakta mengenai perang antara pulau-pulau siang dan pulau-pulau malam yang berada di ambang kejadian? Apa dia menunggu sesuatu? Sebab semakin lama dia di Abarat, semakin dia yakin dia pernah ke sana sebelumnya.

Citarasa Abarat: Days of Magic, Nights of War

Jauh, jauh, jauh lebih intens dibanding buku pertamanya. Dan tentu saja lebih seru dari buku pertamanya, secara tak banyak lagi memberi penjelasan mengenai seperti apa itu Abarat, makin banyaknya adegan yang bikin jantung berdebar kencang.

Singkatnya sih, jenis novel yang saat ini sedang digandrungi kebanyakan pembaca: pace cepat dan banyak aksinya.

Ada yang unik dengan gambar Candy (cewek berambut sebahu yang mengenakan kaos oranye) di sampul depan. Perhatikan deh warna matanya. Betapa detailnya lukisan itu—juga lukisan-lukisan lainnya. Aku sendiri sedikit lupa dengan buku pertamanya sebab sudah lama sekali aku membacanya. Mungkin sekitar 2 abad yang lalu (le to the bay XD ). Tapi lukisan dan deskripsi ini langsung membuatku penasaran, menggerakkanku ke laci tempat aku menyimpan buku-bukuku, menarik Abarat (buku pertama) keluar, dan memicingkan mata memperhatikan gambar mata kecil Candy. Dan ternyata...

Tak banyak yang bisa aku katakan (atau tulis) lagi mengenai buku kedua dalam seri Abarat ini. Gimana ya? Kisahnya oke. Alurnya oke. Tokoh-tokohnya oke (termasuk tokoh antagonisnya). Dan ini yang aku suka... Dilengkapi lukisan-lukisan indah (tapi sekaligus menyeramkan) yang membantu pembacanya mengimajinasikan apa-apa yang dideskripsikan dalam narasi.

Khusus untuk tokoh jahatnya, yakni Christopher Carrion, beberapa orang mungkin akan kagum dan ngefans padanya. Dia jahat, tapi sekaligus baik. Dia bernafsu menangkap Candy, tapi dia ingin Candy ditangkap hidup-hidup dan mungkin kalau bisa tanpa luka sedikit pun. Dan sebagai penjahat, dia... Kalian mungkin sedikit kaget akan ini... Memiliki kadar cinta yang begitu besar.

Bagaimana dengan masalah teknis seperti typo? Dengan kisah ajaib yang disajikan, aku sama sekali tak terganggu. Meski bisa dibilang typonya juga sangat sedikit.

Bagaimana dengan kisah romensnya? Nah, di buku kedua Abarat ini, kisah cintanya kadarnya sedikit lebih banyak dibanding buku pertamanya. Kisah cinta siapa? Apakah Candy? Atau orang (makhluk) lain? Itu adalah salah satu hal yang mesti kalian cari tahu =P

Overall, Abarat: Days of Magic, Nights of War... Sempurna! Bikin aku tidak sabar membaca lanjutannya!

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | read big

6 comments:

  1. tapi lanjutannya belum ada terjemahannya bukan sih? sepertinya bukan prioritas GPU :'(

    BalasHapus
  2. Belum diterjemahin buku ketiganya. Memang. Tampaknya seri ini bukan prioritas. Sayang sekali ya.

    BalasHapus
  3. Belum diterjemahin yang ke 3 T_______________________T Huwaaaaaaa

    BalasHapus
  4. Semoga segera ya, Nan. Pengen batja kelanjutan kisah Candy dan 100 lukisan lainnya sang penulis ._.

    BalasHapus
  5. ak blh pnjm bku keduanya g kak ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh. Silakan maen ke rumahku. Buku boleh dibatja di tempat, tidak boleh dibawa pulang :3

      Hapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html