Gloomy Gift by Rhein Fathia

Kalimat pertama Gloomy Gift
Suasana siang hari dari kedalaman sepuluh meter di bawah permukaan laut tidak semenyenangkan di bibir pantai.

Sececap Gloomy Gift

Namanya Kara. Hari itu, ia dan Zeno, kekasihnya, baru saja bertunangan. Acara pertunangan itu berjalan lancar. Semua tersenyum bahagia. Tidak ada yang lebih cocok untuk mendampingi Kara selain Zeno. Tidak ada yang lebih pas lagi selain Kara yang bersanding dengan Zeno. Namun, beberapa menit setelah acara itu selesai, bahkan kuaran kegembiraan yang memenuhi tiap sudut rumah Kara yang menjadi lokasi acara pertunangan belum juga hilang, tiba-tiba saja muncul banyak orang dengan pistol di tangan.

Siapa mereka? Ada urusan apa mereka masuk ke rumah Kara? Apakah mereka diundang?

Bunyi letusan pistol menjawab pertanyaan tersebut. Mereka jelas bukan undangan. Mereka hendak melakukan sesuatu yang tidak baik!

Kedatangan mereka membuat sikap Zeno berubah. Dia mendadak jadi tidak pedulian dan menyuruh-nyuruh Kara dengan suara datar. Dia juga lebih banyak bicara di telepon dengan orang-orang yang nama-namanya mirip nama rasi bintang. Kara yang takut terjadi apa-apa pada keluarganya, pada orang-orang, yang berkumpul di lantai bawah, sontak dihinggapi kebingungan.

Ditambah lagi, Zeno membawanya kabur Kara yang saat itu belum sempat mengganti kebayanya yang tidak cocok dipakai untuk main kucing-kucingan.

Berbagai tanda tanya memenuhi benak Kara. Dia bahkan memasang wajah memelas meminta penjelasan pada Zeno. Namun Zeno tetap bungkam, enggan memberi tahu kenapa orang-orang itu datang ke rumahnya dan mengejar-ngejar mereka, dan berlagak seolah tembakan itu, raut bernafsu orang-orang itu, bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.

Zeno boleh diam seribu bahasa, tapi ada orang lain yang dengan senang hati memberi tahu Kara. Orang itu memberi tahu Kara bahwa tunangannya tersebut... telah membunuh seseorang.

Zeno seorang pembunuh?!


Citarasa Gloomy Gift

Saat membatja premisnya, aku tahu bahwa novel ini akan melibatkan aksi ala-ala cerita agen rahasia. Dan Gloomy Gift tidak mengecewakanku. Novel Rhein Fathia yang pertama kubatja ini memang penuh aksi dan kejar-kejaran!

Tapi sejujurnya, sejak pertama kali melihat sampulnya, yang terbayang di benakku ya adegan penuh aksi dan kejar-kejaran itu.

Aku juga senang sekali karena yang digunakan untuk cover buku ini adalah seperti yang tampak di samping ini.

Dulu, lewat akun facebooknya, kak Rhein sempat bikin polling untuk cover yang akan digunakan untuk novel teranyarnya itu. Dan aku ikut memilih cover ini. Yang pertama, aku suka fontnya. Terasa pas dan manis saja, bak kisah cinta Zeno dan Kara. Penggunaan jas dan penampakan dari leher ke paha juga sudah pas, dibanding cover satunya yang lebih fokus ke perut si model, karena dengan lantang meneriakkan bahwa pria ini sedang berada di acara pernikahan, dan pernikahannya tak berjalan lantjar karena para musuhnya datang dan bernafsu untuk membunuhnya.

Pernikahan? Ya, saat melihat covernya untuk pertama kalinya aku mengira acara yang diselenggarakan adalah pernikahan bukan pertunangan.

Dan cukup dengan cover itu, sudah membuatku berminat sekali untuk membatjanya dan membelinya.

Mungkin ini tidak penting, tapi aku tetap ingin menuliskannya, aku memutuskan mengadopsi buku ini tanpa membatja blurbnya atau sinopsis singkat yang tergores (?) di punggung buku. Meski setelah membatja bab pertama, tampilan di depan itu tidak menggambarkan Zeno secara kesuluruhan. Pakaiannya memang pakaian di acara pertunangan atau pernikahan, dan Zeno juga memakai pakaian semacam itu ketika di rumah Kara, tapi dasinya berbeda.

Pas batja prolog, aku sempat kesulitan untuk masuk ke dalam cerita. Aku butuh batja dua-tiga kali untuk bisa menyelami situasi dan kondisi yang mana jelas bisa ditebak Zeno berada di sana. Adegan ini cukup oke, tapi tidak bikin aku penasaran. Malahan, menurutku saja ya, bila prolog dihilangkan pun tak ada pengaruhnya padaku. Yang benar-benar berpengaruh itu justru ketika orang-orang bersenjata api menyerbu masuk ke rumah Kara.

Kenapa aku suka itu?

Karena terasa nyata dan biasa-biasa saja. Maksudku begini, Kara kan orang biasa-biasa saja. Sama seperti kebanyakan dari kita, orang biasa yang mendambakan hidup tenang dan damai. Tapi tiba-tiba saja kedamaian itu pecah bak gelembung yang ditusuk jarum. Beuh, kisah model begini yang aku suka. Orang biasa yang terlibat sesuatu yang tak biasa. Kesan biasa ini yang membuat Gloomy Gift istimewa.

Adegan bergulir mulus. Persis kayak film-film aksi yang menghiasi layar lebar dan layar kaca. Bikin berdebar-debar dan bikin cemas, apakah para pengejar berhasil mengejar mereka dan muncul secara mendadak, atau apakah para pengejar ini akhirnya kehilangan jejak Zeno dan Kara dan untuk sementara sepasang sejoli itu aman dan bisa bernapas lega.

Dialog antar tokohnya cukup mulus, kadang ada yang sedikit kaku karena terlalu baku untuk ukuran obrolan zaman sekarang, tapi hal itu tidak menganggu sama sekali. Kadang aku juga sering ngomong seperti soalnya, hahah.

Gloomy Gift disisipi alur mundur untuk memperkenalkan para karakternya secara mendalam. Hal yang bagus, menurutku, karena dengan begitu aku tidak jadi terlalu jenuh disuguhi aksi dan lari-larian terus-terusan. Juga agar kita tahu kenapa para karakternya berbuat seperti itu, dan kenapa ada konflik seperti itu.

Oh ya, meski blurbnya menggunakan POV orang pertama, novel ini menggunakan full POV orang ketiga serba tahu.

Aku sempat menyayangkan ada yang memiliki trauma. Kebetulan yang sejak awal terasa pas jadi seolah dibuat-buat. Tapi dengan cantiknya (?) kak Rhein perlahan-perlahan membuatnya jadi terasa pas. Dan yang cukup mengejutkanku (bagian ini yang paling mengejutkanku, omong-omong), lewat trauma ini kak Rhein menyisipkan (mungkin) "pendapat dan komentarnya" tentang apa yang terjadi di negeri ini. Sesuatu yang melekat pada sebuah profesi yang mendapat predikat jelek dari masyarakat. Juga sisipan sedikit sejarah Indonesia yang meneriakkan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai seseorang yang tidak mudah dikejutkan (oleh cerita), bahkan aku sudah bisa menebak kenapa rumah Kara yang dijaga ketat bisa kebobolan dan siapa dalang yang membantu sang antagonis, kejutan itu cukup bagus dan ditempatkan secara pas tanpa unsur paksaan (?) Tidak seperti sengaja ditempelkan agar tampak idealis.

Dan omong-omong soal Indonesia, rasa Indonesia atau lokalitasnya terasa. Gloomy Gift meski menggunakan premis cerita yang sering diolah oleh penulis-penulis luar negeri, rasa Indonesia tidak hilang. Cuman, menurutku, seandainya beberapa tokohnya menggunakan "lo-gue" rasa lokalnya itu akan terasa lebih kuat lagi. Maksudku gini, setting yang digunakan kebanyakan adalah Jakarta dan Bandung. Jelas gue/gua-lo pasti lebih sering digunakan. Terutama oleh para cowok yang entah kenapa agak-agak malu menggunakan "aku-kamu" walau itu bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oke, bukan entah kenapa tapi lebih karena ada semacam kesepakatan (meski tidak semua, termasuk diriku) bahwa "aku-kamu" adalah bahasa untuk orang yang pacaran.

Riset yang dilakukan kak Rhein untuk membangun believability juga tak main-main. Setidaknya aku tahu bagian yang asuransi itu dan upaya yang mereka dalam mencari tahu kebenaran sebuah insiden sebelum klaim bisa cair. Kara, meski mungkin berpotensi akan dibentji oleh beberapa reader dengan sikapnya yang seperti itu, bagiku justru menambah kerumitan dan kedalaman plot. Dan terasa nyata. Coba bayangkan, bila kalian tahu calon pasangan kalian ternyata tangannya berlumuran darah, dan tak ragu menghilangkan nyawa seseorang, apakah kalian akan tetap menyukainya tanpa memandangnya dengan tatapan curiga? Jadi, ya, lagi-lagi aku harus bilang, bahwa itu terasa pas.

Satu lagi yang bikin aku terkejut adalah adegan bab terakhir sebelum epilog. Gara-gara akhir bab itu, ada yang mengintip di kedua ujung mataku ketika mulai membatja epilog. Cairan bening itu hanya datang sekilas doang kok. Beneran. Lagipula saat itu aku juga sedikit mengantuk jadi keterkejutan itu mendorong air yang diproduksi iris untuk lebih menyembul keluar...

Oke, oke, aku yakin kalian tidak mempercayai alasan konyolku tersebut (-_-"). Aku memang mengeluarkan air mata. Cuman bentar. Cuman dikit. Tidak sampai satu menit. Mau kalian percaya atau tidak, terserah deh ._. #eaak #ditimpukvoucherbuku

Tapi aku dikejutkan lagi sih di epilog. Jadi total terkejut membatja novel ini ada tiga kali. Dan bisa dibilang itu sudah cukup banyak.

Secara keseluruhan, aku suka sekali dengan Gloomy Gift. Dan tak sabar untuk membatja buku kak Rhein Fathia yang lain. Terutama yang covernya bagus kayak Couple Love dan Seven Days.

Oh, dan satu lagi. Aku suka tata letak atau layout buku ini. Halamannya dan awal tiap babnya ciamik!

Gloomy Gift

Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Pustaka Populer - Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Tebal: IV + 284 halaman
Genre: Romance - Suspense - Action
Score: Yummy! (4 of 5 stars)
Target: Young - Adult (16 tahun ke atas)
Bisa dibeli di @Story_Eater: Rp. 44.800 (17% off)

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::

Kategori: Support Local Author

https://perpuskecil.wordpress.com/2015/01/15/lucky-no-15-reading-challenge/
Kategori: Cover Lust

|

0 comments:

Poskan Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html