Teenlit dan YA

Ketika disodori buku berlabel teenlit, apa reaksi pertama kalian? Menerima dengan senang hati? Menolaknya dengan berbagai alasan, semisal kalian sudah terlalu tuwir (baca: tua) untuk membaca buku tersebut? Atau justru langsung merasa jijik sambil bilang, aku sudah tidak baca teenlit?


Tapi bagaimana ketika kalian disodori buku-buku seperti Harry Potter, The Hunger Games, Percy Jackson, The Fault in Our Stars, apakah kalian masih akan menolak? Kebanyakan pasti akan menerimanya dengan senang hati, bahkan yang merasa jijik dengan yang namanya teenlit.

Padahal, tahukah kalian bahwa Harry Potter, The Hunger Games, Divergent dan buku-buku yang aku sebutkan, dan yang sejenis dengan mereka, adalah bacaan remaja juga alias teen literature, yang kemudian biasa disingkat teenlit?

Uniknya, ada yang akan menjawab seperti berikut ini:
1. Bukan, Harry Potter itu bukan teenlit. Itu buku fantasi.
Atau...
2. Divergent buku YA kali. YA sama teenlit beda.

Ketika yang menjawab seperti itu mendapat balasan, "Fantasi itu genre, teenlit itu jenis buku dan segmentasi bukunya," dan "Bedanya di mana? Tokohnya sama-sama remaja, juga sama-sama galau akan cinta—kalau tidak cinta segitiga bisa jadi tidak punya waktu untuk cinta karena sibuk/berkutat dengan hal lain walau dalam hati pengen juga merasakan cinta?"

Dari balasan itu, muncul jawaban lagi:
1. Pokoknya fantasi itu beda dengan teenlit.
2. Oke, mungkin YA sama teenlit itu punya sedikit kesamaan. Tapi dari segi cerita YA itu lebih berat dari teenlit. Teenlit itu bacaan ringan.

Bila dua jawaban itu sudah muncul, tidak jarang akan muncul sahutan, "Bagaimana dengan novel fantasi seperti serial The Mediator karya Meg Cabot yang dapat label teenlit di Indonesia dan dapat label YA dari negeri barat?" dan/atau "Pernah baca Incognito karya Windhy Puspitadewi belum, itu temanya perjalanan waktu dan memasukkan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah (salah satu filsuf Yunani, tokoh terkenal dari sejarah Jepang, penulis terkenal dari Amerika) ke dalam ceritanya, buku itu dapat label teenlit di sampulnya, apakah buku itu termasuk buku yang ringan?" dan/atau "Hanya karena tema yang diangkat di sebuah novel remaja berat, apakah otomatis dia bukan bacaan remaja lagi? Lalu bagaimana dengan novel teenlit legendaris, Kana di Negeri Kiwi, yang membawa sub-tema yang amat sangat serius: perkosaan (tanpa membuat "mual" mereka yang anti dengan topik ini), apakah temanya itu otomatis menjadikannya bukan bacaan remaja?" dan/atau "Pernah baca Shopaholic series karya Sophie Kinsella? Itu novel segmentasinya dewasa, tapi aku jamin isinya tidak berat sama sekali alias ringan banget—mungkin malah seringan bulu (#eaak), apakah itu bisa dikategorikan sebagai teenlit?"

Balasan dan sahutan itu jelas dan tentu berasal dariku x)) Habis gimana ya, bisa dibilang aku gemas sekali dengan "peyorasi" yang dialami teenlit. Padahal YA dan teenlit itu sama.

Dulu, saat aku baru kenal istilah YA, aku sendiri penasaran dengan arti istilah (bukan secara harfiah) itu. Ini bacaan remaja, tapi kenapa sebagian orang bilang ini bukan teenlit?

Kegalauanku itu sempat aku tanyakan pada penulis dan editor yang aku follow di twitter. Dengan twit yang (kurang lebih) tertulis, "Apakah teenlit dan YA itu sama?" Tapi sayangnya, seingatku, cuman satu yang membalas twitku tersebut. Dia adalah penulis Magical Seira dan jawabannya (kurang lebih), "Ya. Sama."

Tapi aku tidak akan heran, meski setelah baca ini, masih ada yang ngeyel bahwa YA dan teenlit itu beda. Aku tidak menyalahkan mereka, karena (menurut pengamatanku) YA mungkin "lebih berat" disebabkan budaya asal penulisnya yang jauh lebih liberal dibanding di Indonesia, maka YA terlihat agak dewasa dari teenlit Indonesia kalau dilihat dari kacamata ketimuran.

Bagaimana dengan dirimu, apakah kamu salah satu yang menganggap teenlit dan YA itu beda?

P.S.
Tahukah kamu kalau ternyata di negeri barat pun, novel-novel remaja aka YA dapat cemoohan yang kurang lebih sama seperti teenlit di Indonesia? Kalau tidak percaya, coba tanyakan pada pelajar di negeri barat, Apakah buku-buku YA dipandang sebelah mata? Rata-rata akan menjawab, "Ya."

Tapi tidak seperti di Indonesia, para penyuka YA membalas dengan sama kerasnya!

Masih tidak percaya? Coba deh baca posting yang dibikin Giselle @ Book Nerd Canada, jangan lupa baca komentar para pembacanya, yang tentunya tidak hanya warga Canada saja tapi juga US, mungkin kalian bakal terkejut!

4 comments:

  1. Mau dong buku saya direview, boleh kan?
    Berkunjung ke blog saya untuk lengkapnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya jarang baca buku nonfiksi, heheh.

      Hapus
  2. Sebenarnya si sama aja, cumaaaaa terkadang penerbit yang memberikan label teenlith hanya pada buku-buku romance anak abege yang ya ceritanya cuma tentang cinta anak muda, pencarian jati diri yang biasa banget juga :p intinya si cuma bahas tentang kegalauan si tokoh ^^

    BalasHapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html