Blaze of Glory by Michael Pryor

Kalimat pertama Blaze of Glory
Aubrey Fitzwilliam hated being dead.

Sececap Blaze of Glory

Namanya Aubrey Fitzwilliam, putra tunggal dari Darius Fitzwilliam, salah satu tokoh terkenal di Albion, negeri tempat mereka tinggal. Sebenarnya malah keluarga Fitzwilliam ini masih ada hubungan darah dengan keluarga kerajaan. Jadi, janganlah heran bila Aubrey cukup dikenal orang.

Meski begitu, Aubrey yang masih belasan tahun itu memiliki bakat yang tak dimiliki kedua orangtuanya. Dia mempunyai bakat istimewa: dia bisa "mengendus" keberadaan sihir di sekitarnya, sekecil apapun itu.


Sudah kayak doggy (karena anjing entah bagaimana menjelma jadi kata tak sopan) aja nih, Aubrey x)))

Suatu hari, saat mewakili ayahnya ke acara persahabatan antara negeri Albion dan Holmland, dua negeri yang diam-diam saling benci dan saling menunggu salah satu membuat kesalahan sehingga bisa menggunakannya untuk mendeklarasikan perang, Aubrey "membaui" —

Tuhkan, aku semakin yakin dia doggy x)))

—ada bau sihir di lokasi olahraga persahabatan dua negara. Sihir jahat. Sihir yang menggerakkan golem yang jelas sekali dibikin untuk membunuh orang. Kemungkinan besar untuk membunuh Prince Albert, sepupu Aubrey.

Keanehan lainnya, selama beberapa minggu terakhir dua orang Profesor yang ahli di bidang sihir terbunuh atau dibunuh. Dan salah satunya adalah ayah dari teman baru Aubrey, Caroline.

Bersama George, sahabat terbaiknya, dan juga Caroline, Aubrey mencoba menyelidiki misteri-misteri yang terjadi, sambil berharap bisa mengungkap pembunuh ayah Caroline.

Citarasa Blaze of Glory

Buku ini... Cukup berat. Atau setidaknya cukup berat bagiku. Tidak secara kisahnya, karena kisahnya sederhana saja. Tapi secara penggunaan bahasanya yang penuh sopan-santun ala-ala Eropa zaman dulu.

Tapi jangan salah, justru unsur berat ini yang bikin aku suka dengan buku pertama dari seri Laws of Magic ini. Kisahnya sendiri bagiku biasa saja. Dan karena berat ini, aku butuh waktu lama membatja Blaze of Glory ini karena... Ingin menikmati tutur kata sopan, bahkan pada sahabat terdekat sekalipun.

Tapi, tentunya, tidak sampai seperti novel klasik. Hanya novel ini bisa aku bilang bebas dari umpatan.

Hal kedua yang aku suka dari Blaze of Glory adalah konsep sihirnya. Meski bukan hal baru, aku suka dengan sihir yang dijelaskan bak teori fisika.

Blaze of Glory menggunakan set semesta alternatif. Dan sihir punya pengaruh besar pada teknologi. Kayak semisal ornithopter (dari namanya sudah ketahuan kan kalau ini heli versi Laws of Magic), benda itu bisa terbang karena hukum sihir.

Bab pertama mempunyai kalimat awal yang keren banget. Tapi walau begitu, bab satu memberi banyak kesan yang salah pada karakter utamanya. Setidaknya, bagiku, lewat membatja bab pertama saja, aku menyimpulkan Aubrey ini anak yang punya bakat istimewa tapi dia terlalu keras untuk membuktikan diri, pribadi yang serius dan suka memendam amarah, serta benci pada ayahnya. Ditambah lagi, sang penulis menceritakan bahwa Aubrey serba bisa dan bisa jadi apa saja yang dia mau. Tapi... Kesan itu runtuh seketika pas aku lanjut batja bab-bab selanjutnya. Aubrey serius, tapi dia cukup lucu, dan sikapnya agak-agak kayak Tony Starks.

Secara keseluruhan, aku suka dengan ide dan konsep dari Laws of Magic: Blaze of Glory. Tapi tidak dengan misteri dan plotnya. Tidak jelek, hanya saja bagiku biasa saja dan tidak memberi kejutan. Aku rasa Mr. Pryor masih bisa melakukan yang lebih baik. Tapi buku ini cukup oke untuk dijadikan referensi bagi teman-teman yang mungkin kesulitan merancang sebuah dunia. Dunia buatan Mike Pryor ini bisa kubilang nyaris sempurna.

Blaze of Glory

Penulis: Michael Pryor
Penerbit: Random House Australia
Tahun terbit: 2010
Tebal: 230 halaman
Seri: Laws of Magic #1
Genre: Fantasi - High Fantasy - Adventure - Fiksi Ilmiah
Stew score: Sugar - Free!
Target: Teen (14 tahun ke atas!)

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | | read big

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html