Movie Review: Divergent

DIVERGENT
Genre: Dystopia - Fiksi Ilmiah - Action
Running time: 139 menit
Sutradara: Neil Burger
Cast: Shailene Woodley, Theo James, Kate Winslet, Ansel Elgort, dan seterusnya
Based on novel Divergent by Veronica Roth
Stew score: Sweet!
Target: Teen (13 tahun ke atas!)
Review buku ada di sini

Sejak kecil Beatrice (Shailene Woodley) merasa berada di faksi (kelompok) yang salah. Dia tidak mempunyai sifat-sifat yang menjadi ciri khas faksi tempatnya lahir tersebut: suka menolong sesama, tidak kagum pada diri sendiri.

Eh, bukan ini ding covernya :)))
Besok adalah hari pemilihan. Hari di mana seorang anak yang telah dianggap dewasa memilih faksi. Faksi yang akan menjadi tempatnya tinggal hingga maut menjemputnya.

Di dunia tempat Beatrice tinggal, manusia dibagi dalam lima faksi: Erudite yang menghargai otak yang encer (bekerja sebagai pengajar, peneliti, dan penemu), Amity yang mencintai perdamaian (bekerja sebagai petani), Candor yang suka sekali dengan kejujuran (bekerja sebagai jaksa dan hakim), Dauntless yang menempatkan keberanian di atas segalanya (bekerja sebagai polisi atau pihak keamanan atau disebut satpam juga boleh #eh), dan Abnegation yang menjunjung tinggi azas tak mementingkan diri sendiri (bekerja sebagai pemimpin atau yang memegang tampuk kekuasaan yang utama).

Beatrice terlahir sebagai Abnegation. Begitu pula kakaknya, Caleb (Ansel Elgort) #iyalah

Sebelum benar-benar memilih, para remaja tanggung berkumpul di sebuah lokasi yang mana akan membantu mereka menentukan faksi mana yang cocok dengan kepribadian mereka. Tentu saja ini hanya saran. Di hari pemilihan yang sebenarnya para remaja itu bebas memilih faksi sesuai hati mereka tanpa menghiraukan saran tersebut.

Bagiku, penyaranan ini tak berguna dan buang-buang waktu dan biaya. Untuk apa kalau ujung-ujungnya itu cuman saran? Tapi walau tak berguna, lewat acara itu Beatrice untuk pertama kalinya mendengar istilah yang tak pernah didengarnya karena sangat terlarang: Divergent.

Pengujinya meminta Beatrice untuk merahasiakannya dan dia akan mengisi hasil pengujian atau saran bagi Beatrice itu dengan Abnegation.

Namun, apakah Beatrice akan tetap memilih faksi asalnya saat hari pemilihan?

Tidak. Dia memilih berpindah faksi. Dia memilih faksi... Dauntless.

Cover filmnya yang bener :))

Kakaknya, Caleb, juga memilih berpindah faksi. Sejak dulu ilmu pengetahuan memesonanya. Jadi dia... Memilih masuk ke Erudite.

Bagi yang tidak baca bukunya, apakah kalian tidak bertanya-tanya kenapa Beatrice dan Caleb yang terpaut umur satu atau dua tahun itu bisa barengan hari pemilihannya? Apakah hari pemilihan dilakukan beberapa tahun sekali?

Dengan semua anaknya memilih pindah faksi, lantas bagaimana reaksi kedua orangtua Beatrice dan Caleb? Masa perlu dipertanyakan lagi? Jelas kecewa dan sedihlah :'(

Apalagi ditambah aturan: faksi diatas keluarga. Kebutuhan faksi lebih dulu, keluarga nomor dua.

Sebelum diakui sebagai anggota baru faksi, para... Erm, anggota baru harus diinisiasi dulu. Dan proses inisiasi itu tidak mudah. Atau setidaknya, tidak mudah jadi anggota Dauntless yang mendapat bagian tugas sebagai polisi dan penjaga perbatasan negara/kota. Bahkan sebelum proses inisiasi, para calon Dauntless harus melewati tes fisik yang melelahkan: berlari, memanjat, keluar masuk kereta yang terus berjalan dengan langsung melompat ke dalamnya dan kalau pengen turun juga langsung melompat keluar.

Tak usah heran atau tercengang gitu. Mungkin mereka tak ada biaya untuk membuat stasiun. Atau biayanya digunakan agar kereta tak perlu berhenti dan terus berjalan di rel-nya, menghabiskan listrik, siang dan malam.

Dengan berganti faksi, kalian bebas membuat nama baru atau memperkenalkan diri dengan nama baru yang kalian inginkan. Beatrice mengubah namanya jadi Tris, yang merupakan adaptasi dari namanya.

Pada awalnya, saat proses inisiasi, Tris berada di posisi terbawah yang itu artinya, bila dia tetap berada di posisi tersebut, impiannya menjadi Dauntless akan sirna dan dia harus puas menjadi factionless (orang-orang tak berfaksi yang mana bisa diasosiasikan sebagai gelandangan atau tunawisma).

Untungnya ada Four (Theo James). Om-om Cowok jutek yang menjadi instruktornya. Berkat tuntunannya, sedikit demi sedikit posisi Tris merangkak naik.

Lulus sesi pertama, tes kedua berupa tes mental. Tes ini menggunakan serum yang bila disuntikkan akan membuat seseorang memasuki simulasi. Prosesnya sama seperti hari penyaranan. Disinilah ke-Divergent-an Tris membantunya melewati tes dengan mudah. Sifat Divergent-nya membuatnya sadar bahwa dia berada di dalam simulasi, apapun yang dialaminya tidaklahnya nyata. Berkat "kesadaran" itulah dia dengan gampangnya menaklukkan simulasi ketakutannya hanya dalam beberapa detik saja.

Four yang mengetahui ini meminta Tris untuk menahan diri dan menyembunyikan ke-Divergent-annya. Bahaya.

Tapi kenapa, ini aku yang menanyakannya, kenapa mesti menahannya? Bukankah semua tahu bayangan ketakutan, yang merupakan tes, hanyalah simulasi belaka? Apa yang berbahaya dengan itu?

Atau, jangan-jangan mereka, yang tak sadar bahwa itu simulasi—yang pernah dialami di hari penyaranan, memilih untuk pura-pura tidak tahu bahwa itu semua simulasi?

Bahaya ini baru menunjukkan taringnya ketika suatu malam, Tris terbangun dan mendapati seluruh temannya bersiap-siap melakukan sesuatu... dalam kondisi tak sadar!

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kenapa menjadi Divergent berbahaya?

Aku akan jujur, aku jauh lebih suka dengan adaptasi filmnya ketimbang novelnya! Bagian yang tidak aku suka, terutama klimaks dan endingnya, dibikin jauh jauh jauh lebih oke ketimbang di bukunya. Atau setidaknya jadi terasa lebih pas dan tidak terasa dipaksakan laksana di buku.

Emosi yang mestinya dirasakan Tris, rahasia ibunya, apa yang terjadi pada ayah Tris, semuanya terasa oke dibanding di buku.

Karakter Four yang dielukan-elukan, masih biasa saja bagiku. Tidak ada yang istimewa padanya. Tapi tato di punggungnya, yang seingatku tak ada di buku, benar-benar keren!

Karakter Tris, di film ya, cukup lumayan. Perubahannya antara sikapnya yang malu-malu menjadi pemberani dan kuat terasa sangat mulus. semulus paha berrybelle (?)

Karakter yang lain tak ada yang menonjol. Atau tidak ada yang menarik perhatianku. Bahkan tak juga Rose Dewitt Bukater Jeanine Matthews, yang merupakan si tokoh jahat.

Secara keseluruhan, Divergent film yang lumayan. Aksinya cukup oke, romansanya cukup oke, bagian yang kurang oke di buku dibikin lebih oke di film. Tapi aku belum bisa menemukan apa yang istimewa dari film ini, selain bahwa film ini cukup menghibur dan cukup ditonton sekali saja.

4 comments:

  1. Loh. Antagonisnya bukannya si Kate Winslet? Cm :O apa aku salah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang Kate Winslet :)) Lah, kenapa merasa salah? :O

      Hapus
  2. Tapi kok kamu ga menyinggung si Kate disini sbg tokoh antagonis? :O

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu, Rose Dewitt Bukater sama Jeanine Mattews, itu kan yang meranin Kate Winslet :D

      Hapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html