The Ring of Solomon by Jonathan Stroud

Kalimat pertama The Ring of Solomon
Matahari terbenam di atas kebun zaitun. (Kalimat pertama—berbarengan dengan beberapa kalimat-kalimat selanjutnya—ini sempat jadi "bintang tamu" di salah satu Scene on Three).

Sececap The Ring of Solomon

Meski membencinya, tak ada seorang pun yang secara terbuka mengakui maupun menentang Raja Solomon. Bukan karena kekuatan pasukan kerajaannya sangat kuat, bukan pula karena Raja Solomon raja yang baik lagi budiman serta rajin menabung (?) sehingga Raja dan Ratu negara lain segan untuk merebut kerajaannya, ketakutan mereka lebih dikarenakan pada benda kecil yang melingkar di jari Solomon: sebuah cincin.


Cincin Solomon itu bukanlah cincin sembarangan. Sekali putar... Siapapun akan berpikir dua kali untuk menentang sang Raja. Termasuk Bartimaeus, si jin biasa-biasa saja sekaligus luar biasa... Bandel tapi pintar. Sebab pilihan Bartimaeus hanya ada dua, antara tunduk pada kekuasaan Raja atau terjebak selamanya di dunia manusia tanpa bisa kembali ke Dunia Lain tempat dia berasal. Dia, tentu saja, memilih yang pertama.

Dunia manusia tidak baik untuk kesehatan jin—jin atau makhluk berbentuk spirit lainnya akan menjadi gila atau kehilangan sesuatu yang lain bila terlalu lama di dunia manusia. Tapi meski Bartimaeus terpaksa melakukannya, dia diam-diam berusaha menemukan celah untuk membebaskan diri dari perbudakan.

Lalu kemudian datang Asmira, gadis berparas cantik nan rupawan yang ternyata seorang pembunuh. Misinya adalah membunuh Raja Solomon. Dan orang, atau oknum, yang tahu pertama kali tentang misinya adalah Bartimaeus!

Bartimaeus bisa saja mengatakan soal Asmira ini pada Raja Solomon, namun dia tak bisa melakukannya sebab... meski Asmira hanya manusia biasa, bukan seorang penyihir, dia ternyata punya bakat untuk memanggil dan memperbudak jin. Dan coba tebak siapa jin yang dipanggil Asmira? Yap, tak salah dan tak bukan, si luar biasa (?) Bartimaeus!

Maka Bartimaeus pun terjepit di posisi yang sama-sama mengantarkannya ke kondisi yang sangat tidak menguntungkannya. Kalau tidak ke kebinasaan maka pada siksaan dalam waktu berabad-abad!

Citarasa The Ring of Solomon

Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada Kak Maria "Hobby Buku" @ Lemari Hobby Buku yang telah mengadakan tantangan membaca yang mengantarkanku menjadi salah satu pemenangnya. Kemenangan yang membuatku memilih buku ini: The Ring of Solomon. Pilihan yang sama sekali tidak kusesali. The Ring of Solomon is super awesome!

Pilihan itu termasuk atas campur tangan semesta lho. Awalnya, aku tidak memilih buku itu. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya pilihanku kujatuhkan pada buku dari serial Bartimaeus ini. Serial yang saat itu belum kubaca tapi sudah kudengar nama besarnya; Jin nakal dengan sarkasmenya yang kocak.

Sebagai penggemar komedi, rasanya salah bila melewatkannya.

Oh, kalian penasaran kenapa aku justru memilih prekuelnya ini ketimbang tiga buku utamanya? Well, itu karena saat itu tiga buku utamanya cukup langka dan Gramedia selaku penerbit belum mengumumkan akan mencetak ulang serial itu dengan cover baru. Sekarang sih cukup mudah untuk mencari versi cetak ulangnya, jadi teman-teman yang mau kenalan dengan Bartimaeus tidak perlu risau bakal kehabisan. Tapi, bagiku, tetep bagusan yang versi cover pertama.

Penasaran kenapa aku lebih suka sampul yang lama, yang sudah cukup langka? Itu karena yang jadi "model" sampul tersebut adalah Bartimaeus sendiri—dengan bentuk yang berbeda-beda. Dan yang tidak dimiliki oleh edisi cover baru yang secara gambar sebenarnya jauh lebih oke dan artistik adalah... ekspresi jahil Barty yang memancar dari mata dan senyumnya.


Aku serius. Coba perhatikan dengan saksama mata dan bibir Barty di sampul. Hebat banget ya pembuatnya hingga sampul itu bisa "menghidupkan" sosok Bartimaeus yang berkepribadian ceria.

Sebagai penggemar komedi, The Ring of Solomon tidak mengecewakanku. Sejak bab pertama aku sudah dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh tingkah-polah Bartimaeus yang suka bergeal-geol, menggoda masternya. Bahkan di bab-bab selanjutnya, yang masih awal-awal juga, aku dibuat terbahak-bahak karena Bartimaeus menamai jurusnya dan diberi tanda copyright! Sejak awal juga, meski Bartimaeus itu tokoh utamanya, dia sudah bilang bahwa dia bukan tokoh yang baik, tapi juga bukan tokoh yang jahat. Hal yang lumrah mengingat dia diperlakukan buruk oleh masternya. Tapi bukan budak namanya bila diperlakukan dengan baik.

Selain disuguhi sudut pandang dari Bartimaeus, kita akan disuguhi banyak sudut pandang lainnya. Yang pertama adalah Asmira. Asmira ini abdi amat sangat setia yang lahir dari kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Balkis dari Sheba (terdengar familiar namanya?). Yang kedua, Solomon. Yang ketiga, Balkis. Dan ada lagi yang lainnya. Tapi mereka semua porsinya tidak sebanyak Bartimaeus dan Asmira.

Salah satu kelebihan lain dari serial ini adalah Bartimaues suka bicara lewat footnote. Lucu juga footnote digunakan dengan maksimal selain hanya sebagai penjelasan istilah-istilah sulit.

Bila dibandingkan dengan sekuel-sekuelnya, menurutku The Ring of Solomon ini yang memiliki plot paling sederhana. Plot lurus bak lintasan kereta api. Membuatnya mudah dipahami dan kid-friendly. Temanya juga tidak seberat para sekuel. Mungkin karena meski tokoh utama kita bagian dari perpolitikan negara, tapi mereka bukanlah pemain utama. Mereka hanya bidak yang tindakannya bergantung pada sang pemain utama yakni para master dan raja serta ratu. Dan mungkin juga ketiadaan misteri yang mesti dipecahkan karena tujuan masing-masing tokoh jelas: Si Asmira atas perintah ratu yang dicintainya bertekad membunuh Raja Solomon. Bartimaeus ingin pulang, tapi karena dia budak maka selama dia belum terbebas atau dapat melawan masternya, dia terpaksa harus melakukan apa yang diperintahkan. Dan seabreg motif tokoh lainnya.

Sebenarnya, ending dan klimaksnya mudah sekali ditebak. Tapi karena The Ring of Solomon berhasil menghanyutkanku, hingga aku tak peduli lagi dengan typonya yang super banyak, jadi ya... Aku cukup terkejut ketika sampai di klimaks. Jadi ternyata begitu toh.

Secara keseluruhan, The Ring of Solomon adalah buku yang keren dan sangat aku rekomendasikan untuk dibaca banyak orang (buruan beli, sebelum buku ini menjadi langka atau dicetak ulang dengan gambar baru!) Dan bila merasa kesulitan membaca buku pertama dari keseluruhan seri, The Amulet of Samarkand, aku sarankan kalian untuk membaca prekuelnya ini lebih dulu. Prekuelnya ini jauh lebih ringan dari tiga sekuelnya. Juga jauh lebih ceria dibanding tiga sekuelnya. The Ring of Solomon ini juga bisa dibaca sebagai novel lepasan, karena kisahnya sendiri tak terikat dengan tiga yang utama.

Oh hampir saja lupa. Saat awal-awal batja aku sempat bertanya-tanya, kenapa ya nama Solomon ini namanya tak disesuaikan dengan namanya yang dikenal di Indonesia? Tapi setelah Solomon muncul, aku rasa tak disesuaikan nama itu merupakan langkah yang tepat dan bijaksana. Aku bisa membayangkan seandainya penyesuaian nama agar lebih Indonesia dilakukan, orang yang punya sentimen pribadi pasti akan "bertindak" bahkan tanpa membaca buku yang mengejutkan ini hingga akhir!

Kontroversial mungkin akan melejitkan buku, tapi untuk jangka panjangnya hal itu punya efek tidak baik. Sementara buku bagus itu harus ada selama mungkin dan dibaca orang sebanyak mungkin sebelum menjadi langka dan... Tidak. Aku rasa Bartimaeus Installments dengan tema yang diusungnya, yakni kemanusiaan, akan menjadi novel yang evergreen.

The Ring of Solomon

Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013 (cetakan kedua)
Tebal: 528 halaman
Seri: Bartimaeus #0,5
Genre: Fantasi - Humor - Adventure
Stew score: Delicous (5/5 bintang!)
Target: Everyone #eh Teen (13 tahun ke atas!)

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html