Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran by Mark Haddon

Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran

Penulis: Mark Haddon
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal: viii + 336 halaman
Judul Asli: The Curious Incident of the Dog in the Night-time
Genre: Realistic fiction - Misteri - Adventure - British Literature
Stew score: Almost - Delicious
Target: Teen (14 tahun ke atas)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Dari judulnya yang panjang, kaku, detail sudah mengundang keinginan untuk boker mencari tahu lebih lanjut. Sebenarnya bercerita tentang apa sih buku tersebut? Apakah mengenai anjing yang keluar malam-malam, mangkal di lampu merah lalu ditangkap satpol PP? Atau, soal anjing yang keluar malam-malam, ketemuan dengan pacarnya, tertangkap warga lalu diarak keliling kampung?

Tentu saja kedua spekulasi itu seratus persen ngaco. Yang benar adalah semua peristiwa dalam buku bersampul merah muda menyala itu berawal dari kematian anjing yang membuat penasaran seorang bocah berumur 15 tahun.

Nama bocah itu adalah Christopher Boone. Dan dialah yang pertama kali menemukan anjing milik tetangganya yang mampus mati ditusuk oleh garpu kebun, tepat tujuh menit lewat tengah malam. Nama anjing itu Wellington. Dia anjing pudel besar berbulu hitam keriting.

Sebagai satu-satunya orang yang berada dekat dengan korban, Christopher sempat dituduh sebagai pembunuh Wellington. Dia juga sempat ditahan sebentar di kantor polisi. Namun, karena tak terbukti bersalah, Christopher pun dibebaskan. Namun, dia masih penasaran siapa yang membunuh anjing milik tetangganya itu. Namun, dia dilarang keras oleh ayahnya untuk mencari tahu, atau berlagak sebagai detektif, atau apa pun sebutan kalian, meski dia sangat ingin. Namun, bukan berarti dia diam saja. Dia tetap mematuhi ayahnya, tapi dengan sangat cerdik dia menemukan arti lain dalam kalimat ayahnya.

Yang kemudian malah membuatnya menemukan rahasia yang jauh lebih besar dan kelam.

Rahasia yang membuat Christopher nekad dan melupakan sejenak ketakutannya. Membuat Christopher mesti menggonggong menirukan anjing (bukan metafora) setiap kali berpapasan dengan orang yang dikiranya jahat. Membuat Christopher yang jangkauan terjauhnya hanya sampai toko di ujung jalan rumahnya berani menempuh perjalanan jauh.

Kalian pasti bilang, "Ah, pasti buku itu tidak asik. Reviewnya saja datar. Yang terbunuh juga cuman hewan. Tak ada menarik-menariknya. Belum lagi, kenapa Christopher mesti berlagak seperti anjing? Apa dia tidak malu? Dia sudah 15 tahun gitu loh."

Lalu aku akan menjawabnya, "Karena Christopher anak berkebutuhan khusus."

(Aku langsung membayangkan Christopher menyelaku dan mengatakan, "Kenapa aku disebut berkebutuhan khusus, sementara orang bermata minus yang membutuhkan kacamata khusus disebut normal?")

Dan sebelum kalian membuka mulut aku berkata lagi, "Christopher menyandang sindrom Asperges, semacam autis."

Dan aku akan berkata lagi, "Sudah mengerti sekarang? Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran adalah novel misteri yang tidak biasa. Bahkan penomoran babnya saja lain daripada yang lain."

Lalu aku berkata lagi, "Kali ini aku sudah membuatmu penasaran?"

Kalau belum, yah, berarti aku gagal menduplikasi gaya bercerita Christopher yang datar dan kaku, namun bikin penasaran.

Mark Haddon benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Tidak setengah-setengah dalam menciptakan karakter Christopher. Cara ngomongnya. Cara berperilakunya dan cara berinteraksinya dengan orang lain (penyandang sindrom asperges itu digambarkan sebagai anti-sosial, tidak mau dipegang [bahkan oleh orang terdekatnya], tak mau bicara dengan orang asing, kebayang dong betapa penasaran diriku gimana cara Christopher dalam mengungkap siapa pembunuh Wellington, secara seorang detektif kan mesti tanya sana-sini untuk mencari tanda bukti).

Karena Christopher punya kemampuan lebih di bidang matematika dan fisika, maka jangan heran bila sepanjang buku kalian menemukan beberapa soal matematika. Sayang, tidak ada satu pun soal fisika.

Yang aku suka dari Christopher adalah ketidakmampuannya dalam memahami metafora. Bukannya aku mengejeknya, tapi tiap kali dia membahas metafora, pembahasannya dan keluguannya selalu sukses memecah tawaku (ini metafora, peduli amat Christopher ngerti atau nggak. Aku saja tak yakin dia tahu bahasa Indonesia).

Yang tidak aku suka dari Christopher adalah... Hanya sedikit. Itu pun karena dia itu, emm, jawabannya ada di bab-bab sebelum bab terakhir. Di bab-bab itu sikapnya menyulut rasa sebalku.

Kalian pasti bertanya-tanya, "Apakah dia berhasil menemukan siapa pembunuh Wellington?"

Aku jawab, "Sebenarnya hal itu tidaklah terlalu penting. Atau penting dalam skala tertentu, karena telah menjungkir-balikkan dunia Christopher. Dan berkat insiden tersebut dia sadar, bahwa dia (anak yang berkebutuhan khusus) bisa melakukan apa saja."

Sekarang ngomongin soal teknisnya.

Yang pertama, sampulnya. Sampulnya keren kok. Sangat menarik minat untuk dipegang dan dielus-elus (?) Tapi, kalau mau rewel soal detail, warna bulu Wellington harusnya tidak putih. Secara dideskripsi novel, warna bulunya hitam. Apa ya yang membuat pihak penerbit memutuskan memberinya warna putih? Apakah agar pembunuhan anjing di novel ini terkesan lebih "lembut"? Atau karena sebab lainnya?

Yang kedua, terjemahannya. Ada kalimat yang diubah di edisi terjemahan ini. Tapi tenang, dan jangan cemas atau pun khawatir, pengubahan ini memang perlu agar kita lebih mudah dalam mencerna dan menangkap makna yang dimaksud oleh Christopher. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya dan bahasa. Dan aku salut pada penerjemahnya yang mau bersusah payah mencari padanan kalimat yang cocok di dalam bahasa Indonesia demi mempertahankan nilai dalam bahasa aslinya.

Overall, everything was ok. More than okay. And I absolutely recommended this book to read for everyone!

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
|

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html