The Perks of Being Wallflower by Stephen Chbosky

The Perks of Being Wallflower

Penulis: Stephen Chbosky
Penerbit: Pocket Books
Tahun terbit: 1999
Tebal: 240 halaman
Genre: Realistic Fiction - Romance
Stew score: Almost - Yummy!
Target: Teen (14 tahun ke atas!)

Sececap The Perks of Being Wallflower

Sebenarnya siapa sih Charlie? Kenapa dia mengirimkan surat kepadamu?

Aku sendiri tak begitu tahu mengenai dirinya. Bahkan amplopnya tak disertai alamat agar aku bisa membalas surat-suratnya. Yang aku tahu, dia mengaku namanya Charlie. Usianya 15 tahun dan sebentar lagi akan menjadi 16 tahun. Yang itu artinya, dia akan memperoleh SIM dan boleh membawa mobil sendiri. Dia sayang pada keluarganya. Tapi dia lebih sayang lagi pada bibinya, kakak ibunya, Bibi Helen. Dia kehilangan Bibi Helen di malam ulang tahunnya. Bibinya meninggal di dalam kecelakaan. Dan baru-baru ini dia kehilangan sahabat baiknya, Michael.

Kehilangan kata-kata?

Charlie sendiri remaja pria yang tak biasa. Dia susah bersosialisasi, dia mudah mendapatkan nilai A di hampir semua mata pelajaran, dia sering sekali menangis, tapi tak ada yang membully-nya gegara dia jago membela diri. Dan selama aku membaca surat-surat yang dikirim di part pertama, aku yakin Charlie ini adalah ciri orang yang susah sekali untuk move on.

Kecuali kelas Bahasa Inggris, kehidupan di SMA tidak terlalu menarik bagi Charlie. Dia cukup bosan, tapi dia harus terus menjalaninya demi mendapatkan sesuatu yang dapat mengantarnya memperoleh beasiswa di perguruan tinggi. Hingga...

Dia bertemu Patrick dan Sam (ini cewek, sebelum kalian menanyakannya).

Patrick dan Sam adalah saudara tiri. Ikatan yang terjadi dari Ayah Patrick menikahi Ibu Sam.

Sejak saat itu, dia mendapat "tontonan" yang menyemarakkan hidupnya.

Citarasa The Perks of Being Wallflower

Pada awalnya, aku berencana untuk membaca buku ini awal bulan depan. Tapi berhubung aku secara tak sengaja menemukan adaptasi filmnya, aku sontak mencoret The Perks of Being Wallflower dari rencana bacaan bulan depan.

Karya ini kurang lebih mengingatkanku pada Will Grayson, will grayson karya John Green dan David Levithan. Bagus di awal tapi tidak di akhir. Tapi tidak seperti karya duo tersebut, yang hanya "adegan paling ending" saja yang tak aku suka, di karya Mr. Chbosky ini bagian yang tak aku suka terdiri dari beberapa bab. Beberapa bab ini jatuhnya kayak adegan-adegan yang biasa aku temui di ftv-ftv. Tidak jelek sih, cuman yah... Mungkin karena terlalu sering disajikan jadi ya aku bosan.

Jadi, The. Perks of Being Wallflower ini berkisah soal apa sih? Buku ini berkisah... Tidak hanya soal Charlie, tapi orang-orang di sekitarnya, yang dilihat dari mata Charlie. Charlie sebagai narator karakternya terbilang sangat unik. Dia sangat emosional sekali. Dia mudah menangis. Baik di kala senang, mau pun sedih. Dia pintar. Dia susah bersosialisasi. Menganggap sekolah itu neraka sekaligus tiketnya untuk mendapat kuliah gratis. Sayang sekali pada bibinya, Bibi Helen, yang meninggal sejak Charlie masih kecil. Sayang itu tak pernah lekang oleh waktu, dan Bibi Helen masih menduduki posisi pertama sebagai orang terkeren di hati dan pikirannya.

Kemudian dia bertemu dua sahabatnya, Patrick dan Sam. Patrick ini gay dan dia punya pacar (secara sembunyi, tentu saja) bintang olahraga sekolah. Sam ini love interest-nya Charlie. Sejak awal bertemu dengan Sam, Charlie seolah lupa bahwa di dunia masih banyak wanita lainnya. Sam menyadari perasaan Charlie, dia tak berpura-pura lugu dan malah terang-terangan meminta Charlie untuk hanya memikirkan mereka sebagai seorang teman saja. Jangan salah memahami Sam. Sebab Sam ini sudah mempunyai pacar.

Oh iya, Patrick dan Sam ini seumuran. Tapi mereka berdua lebih tua dua tahun ketimbang Charlie.

Selain Patrick ada orangtua Charlie, ada kakak perempuan Charlie, kakak laki-laki Charlie, guru bahasa Inggrisnya, teman-teman yang dikenal Charlie lewat pergaulannya dengan Patrick dan Sam. Mereka semua punya masalah mereka-mereka sendiri. Kadang mereka menceritakannya pada Charlie (dan memintanya merahasiakannya). Kadang mereka hanya bungkam, tapi Charlie sudah melihat cukup banyak untuk dapat menyimpulkan sendiri. Mereka kadang baik pada Charlie, tapi kadang juga jahat (yang lumrah - contohnya, memanipulasinya, memanfaatkannya).

Secara keseluruhan, The Perks of Being Wallflower novel yang cukup bagus. Cara penulisannya, yang dikemas dalam bentuk surat yang dikirim entah pada siapa (bisa juga pada kita), meski terbilang bukan hal baru, terbilang cukup unik. Karakter tokoh-tokohnya, tokoh utamanya (nerd tapi juga jago berantem), unik tapi masih believeable. Oh iya, bagi yang suka baca buku, The Perks of Being Wallflower bertebaran judul buku-buku bagus. Sayang, karena keterbatasan waktu, di adaptasi filmnya buku yang dihadirkan (seingatku) hanya dua. Mana salah satunya judulnya tidak tampak jelas, tak seperti To Kill A Mockingbird.

Omong-omong soal filmnya, mungkin karena disutradarai dan diproduseri oleh penulisnya sendiri maka adaptasinya bisa dibilang tidak terlalu beda jauh dengan novelnya yang terbit akhir abad 20. Oh iya, aku membaca novelnya alasannya karena hendak menonton adaptasi filmnya. Dan aku melihat adaptasi filmnya karena ada Emma Watson yang berperan sebagai Sam. Jadi bisa dibilang, aku membaca dan nonton The Perks of Being Wallflower ini karena pengaruh Emma Watson.

Tapi meski akting Emma Watson bagus, terbagus kedua diantara tiga pemeran utama (menurutku), aku merasa dia tidak cocok memerankan tokoh Sam yang, err, bandel ._.



Walau sama bagusnya dengan buku, adaptasi layar lebar The Perks of Being Wallflower menghilangkan banyak sisi unik dari bukunya. Seperti, sifat emosional (gampang nangis) Charlie dikurangi secara drastis. Hal ini mungkin memang diperlukan. Mungkin untuk menghindari penonton yang ilfeel dengan cowok yang "doyan" nangis. Hal unik kedua yang dihilangkan adalah Charlie itu anti-bullying. Sejak hendak di-bully pertama kali oleh Sean, tokoh tempelan di sekolah Charlie yang hobi ngebully, Charlie melawan. Dia mendapat kemampuan ini dari kakak lelakinya. Maka tidak heran dia bisa menang ketika menolong sahabatnya ketika dikeroyok oleh satu gank populer. Namun, di adaptasi filmnya, Charlie dibully oleh teman satu angkatannya yang iri akan kepintarannya. Hal iri itu memang ada, tapi tidak sampai berani membully Charlie. Sementara adegan menolong sahabat sedikit diberi perubahan yang membuat aksinya seolah-olah berasal dari alam bawah sadarnya.

Sejak awal buku The Perks of Being Wallflower, Charlie sudah menarik perhatianku. Tapi di adaptasi filmnya, yang menarik perhatianku justru Ezra Miller yang berperan sebagai Patrick. Aktingnya benar-benar juara! Sebenarnya, karakter Patrick di buku terbilang terkesan gahar dan dewasa. Tapi di film, karakternya dibikin, err, sedikit lebih slebor. Jadi kesan garangnya sedikit berkurang. Tapi tak masalah karena dia merupakan sumber komedi di film ini.

Oh iya, saat nonton filmnya, aku yakin nama kakak-kakak Charlie tak pernah disebut-sebut olehnya di dalam surat. Tapi karena film berbeda dengan buku, maka otomatis kedua kakak Charlie mesti dikasih nama. Tapi aku bisa saja salah. Bisa saja Charlie menyebut nama kedua kakaknya di suratnya, namun aku lupa sehingga kesannya nama kedua kakaknya, terutama yang cewek, mengalami perubahan.

Overall, baik film dan buku (aku prefer buku), keduanya cukup lumayan. Ringan, lucu, terpampang nyata (?), sekaligus serius.

P.S. Hari ini, Senin 24 Maret 2014, aku baru tahu kalau adaptasi film The Perks of Being Wallflower tidak tayang di Indonesia. Hmm... sayang sekali ya.

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | | | read big

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html