1Q84 jilid 1 by Haruki Murakami

1Q84 jilid 1

Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2012
Tebal: 516 halaman
Seri: 1Q84 #1
Genre: Fantasi - Magic Realism - Supernatural - Fiksi Sejarah - Asia [Japan] Literature
Stew score: Almost - Yummy!
Target: Adult (17 tahun ke atas!)

Gigitan pertama 1Q84 jilid 1
Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah.
- kalimat yang tercetak di sampul lapis kedua.

Sececap 1Q84 jilid 1

Pada awalnya semuanya terasa biasa-biasa saja bagi Aomame dan Tengo. Tahun 1984 biasa. Tentu saat itu ada kecemasan akan "ramalan" George Orwell apakah akan terbukti benar atau tidak. Tapi kecemasan tersebut tak memberhentikan roda kehidupan. Orang-orang masih pergi bekerja. Anak-anak masih menimba ilmu di sekolah. Kehidupan berjalan seperti biasanya. Kalau pun ada perubahan, pasti hanya sedikit, hingga tak terasa bahwa itu perubahan.

Namun tidak bagi Aomame dan Tengo. Hal-hal aneh, perubahan-perubahan drastis—yang tak diketahui sebabnya, mulai terjadi. Seolah-olah tiba-tiba saja mereka berpindah dunia.


Bagi Aomame, tahun tersebut berubah menjadi tahun 1Q84. Sejak sadar dirinya berada di dunia lain, dia sering menatap ke arah langit. Ke arah dua bulan yang menghiasi langit malam.

Bagi Tengo, tahun tersebut merupakan tahun di mana kehidupannya yang tenang, damai dan teratur terobrak-abrik oleh rencana besar, rencana yang berisiko menghancurkan dirinya, yang sulit ditolaknya.

Sesuatu yang dahsyat sedang bergerak. Entah apa. Yang pasti sesuatu tersebut tampaknya mengancam kehidupan mereka berdua.

Citarasa 1Q84 jilid 1

Akhirnya, bisa juga aku "makan makanan" bikinan Haruki Murakami. Sebagai hidangan perkenalan, sekaligus hidangan pembuka untuk sebuah trilogi, 1Q84 jilid 1 itu sudah mampu bikin lidah bergoyang. Memang, pada awalnya teksturnya yang alot dan kenyal bikin gigi geligiku berusah keras mengunyahnya (baca: pace kisahnya lambat hingga bikin aku menyeret diriku untuk terus membaca). Tapi setelah habis seperdelapan, atau lebih tepatnya saat mencapai bab 4, aku mulai terbiasa dengan teksturnya yang padat informasi dan pengetahuan demi memperkuat karakter dan setting tahun 1984-nya, dan mulai bisa menikmati sajian itu.

Aku mulai tak bisa berhenti menyantap ketika kisah ini tiba-tiba saja berubah penuh "humor." Bukan humor lawakan, sebab kedua tokoh utama tak mempunyai rasa humor yang tinggi. Lebih ke pengungkapan fakta yang jujur, yang mungkin beberapa orang bakal menganggapnya tabu.

Penyajian kisah dibagi menjadi dua POV: Aomame (perempuan berpenampilan lumayan oke, pintar olahraga, suka baca/lihat berita, punya pengetahuan dan kemampuan/olah fisik yang sangat oke, sering mengeluh soal payudaranya yang berukuran kecil, memiliki pekerjaan sampingan sebagai pembunuh pria-pria "sakit jiwa" yang kemungkinan sembuhnya sangat kecil) dan Tengo (pria berbadan besar, pendiam, sensitif, cinta matematika, baca dan menulis, guru bimbel sekaligus kontributor lepas majalah sastra, calon novelis, suka dengan wanita yang lebih tua, suka menjauhi masalah—cenderung pengecut). Keduanya menggunakan POV orang ketiga.

Karena hidangan pembuka, marabahaya yang disebut oleh sinopsis di belakang kemasan, belum menampakkan diri. Aomame yang melihat dan menyadari keganjilan, tapi enggan dan belum bisa terang-terangan menunjukkannya pada orang-orang yang dikenalnya sebab ada kemungkinan dia bakal dianggap gila—semua orang yang dikenal tidak ada yang menyadari soal keganjilan tersebut atau mereka menyadari tapi menganggap keganjilan tersebut hal yang sudah biasa. Sementara Tengo, meski telah bertemu dengan salah seorang yang pernah menyaksikan seluruh keganjilan (Aomame masih sebagian keganjilan), dia tak sadar dirinya telah terseret ke dalam keganjilan. Marabahaya itu baru mulai menampakkan wujudnya, dan kengeriannya, di suapan-suapan terakhir. Bisa dikatakan, 1Q84 jilid 1 ditutup di bagian yang justru menerbitkan air liur!

Kekuatan, sekaligus kelemahan, 1Q83 jilid 1 adalah deskripsi dan fakta-fakta (baik yang nonfiksi mau pun yang fiksi) yang disuguhkan peramunya sangat banyak dan banyak diantaranya begitu detail. Kedetailan yang kadang menimbulkan kebosanan.

Aku akui, di awal aku agak sedikit menyesal telah membeli buku ini. Di awal aku juga mengira Aomame, dengan pakaiannya yang rapi, sebagai wanita pekerja kantoran yang sedang berusaha datang tepat waktu dalam sebuah acara (mungkin rapat). Di awal, aku sempat tak percaya buku ini buku fantasi (walau sinopsisnya bilang gitu). Dan masih di awal juga, aku terkejut ketika mendapati kalau buku ini adalah buku dewasa!

Tapi semuanya berbalik saat 1Q84 jilid 1 ini bicara soal kemanusiaan. Keadilan. Lingkungan. Sosial atau hubungan antar manusia. Politik. Agama. Takdir. Keberagaman—termasuk diantaranya yang disebut beberapa orang dengan "keabnormalan". Kebebasan. Perubahan. Dan masih banyak hal lainnya, termasuk cinta dan, yah, seks. Pokoknya, penggambaran buku ini sangat realistis. Makanya aku sempat mengira buku ini bukan buku fantasi. Fantasinya di awal cuman muncul melalui ucapan saja. Ucapan itu pun keluar dari mulut seseorang yang tak biasa. Seseorang yang diantara semua karakter memiliki karakter paling kuat dan terunik.

Buku yang ternyata memang buku di atas permukaan piringku (baca: istilahku untuk menyebut "buku dalam cangkir tehku").

Sayangnya, meski bagus, seru, bikin penasaran, memiliki "permasalahan" yang kompleks dan berlapis-lapis, seperti yang telah kusinggung di atas sepintas lalu, buku ini mempunyai adegan yang bikin orangtua khawatir—kecuali mungkin bila anak-anak mereka seperti Mathilda. Jadi, bagi yang belum 17 tahun ke atas, atau pikirannya belum terbuka, atau kalian yang sering terserang "mual" tiap membaca adegan dewasa yang seringnya berlangsung di permukaan pulau kapuk, aku tidak merekomendasikan buku ini bagi kalian.

1Q84 jilid 1 juga menimbulkan sensasi aneh pada diriku. Tidak sampai "mabok janda buku", tentu saja. Tapi mendekati bab-bab terakhir, aku... Takut membacanya malam-malam. Padahal buku ini bukanlah buku horor. Bisa jadi mungkin saking realistisnya penulis menggambarkan dunia di dalam novelnya yang merupakan awal trilogi ini.

Secara keseluruhan, 1Q84 jilid 1 karya yang bagus. Penuh data. Penuh pengetahuan. Sebagian orang bakal suka dengan suguhan seperti itu, ada yang biasa saja, tapi tak sedikit pula yang bakal bosan setengah mati.
Walau bukunya tebal, jumlah karakter (yang punya nama) sangat sedikit. Banyak hal nyata (yang tidak indah dan tak sempurna) diangkat dan dijabarkan secara gamblang dan jujur. Beberapa orang mungkin tidak akan masalah dengan hal itu, tapi beberapa yang lain mungkin tidak akan tahan dengan kevulgaran yang ditampilkan penulisnya lewat untaian kata. Dan satu hal lagi, bila kalian mencari novel yang penuh aksi, jenis novel yang sedang booming akhir-akhir, maka sama seperti mereka yang tak tahan dengan adegan ranjang, aku tidak merekomendasikan buku ini sama sekali. Tapi bila kalian suka dengan novel sastra yang meneriakkan kemanusiaan dan masalah sosial lainnya, maka novel ini jangan kalian lewatkan.

P.S.
[1] Entah kena sensor atau tidak, tapi aku suka dengan terjemahannya.

[2] Bagi yang typophobia, novel ini nyaris bersih dari typo. Aku menemukan typo kurang dari 5.


Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | read big

2 comments:

  1. Selamat datang di dunia Murakami ^^ Selain terlalu deskriptif, absurd, dan bertele-tele, Murakami juga tidak konsisten pada ceritanya~ hmmm tapi entah mengapa hal itu yang membuat saya jatuh cinta pada tulisan-tulisannya ^^

    BalasHapus
  2. Tidak konsisten? :O Emang yang mana yang tidak konsisten, Nan? Apa gimmick dan fillernya ya? ._.7

    BalasHapus

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html